Syahrul Zaenudin
“Kontenku gagal lagi…!!!” Teriak Rafi.
Suaranya menggelegar sampai memantul ke dinding kelas yang catnya sudah mengelupas. Ia menendang botol plastik kosong di pojok kelas, hingga benda itu berputar seperti gasing tak bernyawa. HP-nya tergeletak di meja, layarnya masih menyala, menampilkan video yang semalam diunggah dengan penuh harap yaitu prank pura-pura kesurupan di kantin. Jumlah penontonnya menyedihkan hanya 37 views. Itu pun sudah termasuk dirinya sendiri yang menonton berulang-ulang, seakan menipu semesta bahwa ia punya khalayak. Naya, sahabatnya yang tak pernah kehabisan komentar ceplas-ceplos, langsung tertawa keras sampai nyaris tersedak permen karet.
“Ya ampun, Fi. Wajar gagal. Kontenmu basi banget. Tahun lalu mungkin masih lucu, kalau sekarang udahlah. Anak-anak tuh gampang bosan tahu, generasi ini kayak air soda. Berisik sebentar, habis itu hambar.”
Rafi meratap dramatis, meletakkan punggung tangannya di dahi seperti aktor sinetron murahan.
“Tapi aku pengen banget viral, Nay. Bayangin deh. Kalau aku jadi seleb medsos, followers jutaan, endorse ngalir kayak sungai, hidupku auto sukses.”
Di sebelah mereka, Damar yang sejak tadi membaca novel tebal menutup bukunya dengan suara thap yang mantap. Ia mendesah panjang.
“Huuuffft… Kalian berdua ini kenapa sih? Selalu mikirin viral. Baca buku lebih keren daripada ngejar view. Nih, Pramoedya itu jauh lebih abadi daripada seleb medsos mana pun.”
Rafi mendecak, wajahnya menampilkan cemoohan khas anak yang sudah kehilangan kesabaran.
“Duh, Dam, novelmu tebal banget kayak bata. Mana ada yang mau baca? Kecuali…” Ia berhenti, lalu matanya berbinar seakan menemukan harta karun.
“Eh, gimana kalau novel itu kita jadiin konten?”
Naya menepuk meja, matanya penuh kenakalan.
“Atau… kita parodiin puisi Chairil Anwar. Kamu baca puisinya sambil pake filter naga, Fi. Aku kasih musik DJ remix. Aku yakin, itu baru konten kelas dunia.”
Damar melotot, wajahnya merah antara marah dan tak percaya.
“Astaga! Itu karya sastra besar, jangan dijadikan bahan main-main. Chairil menulis dengan darah dan nyawa, bukan dengan filter naga.”
“Tenang, Dam,” Rafi menepuk pundaknya sambil terkekeh.
“Kita justru bikin sastra dikenal anak muda. Kamu jadi komentator sok-sok ilmiah. Percayalah, ini pasti meledak!”
Damar menghela nafas panjang. Hatinya menolak, tapi iming-iming traktiran bakso dari Naya. Ah, siapa yang bisa menolak? Ia pun menyerah.
***
Sore itu, rumah Naya disulap jadi studio darurat. HP seadanya, tripod dari botol bekas, dan semangat ala kadarnya. Di ruangan sempit yang penuh dengan poster artis Korea dan rak buku berantakan itu, lahirlah sebuah eksperimen antara sastra dan kekonyolan. Rafi berdiri di tengah ruangan, wajahnya diberi filter naga. Ia mengangkat dagu dengan kepercayaan diri palsu, lalu berteriak lantang.
“Aku ini binatang jalang!”
Musik DJ jedag-jedug mengiringi, menghantam udara dengan kasar. Naya sibuk menambahkan stiker api dan petir yang berloncatan di layar. Damar, yang dipaksa jadi komentator, bicara dengan gaya sok intelektual, kacamatanya melorot sedikit.
“Seperti yang kita lihat, bait ini adalah manifestasi eksistensialisme. Chairil Anwar menolak domestikasi jiwa. Sangat relevan dengan quarter-life crisis anak muda masa kini.”
Hasilnya? Kocak, aneh. Tapi mereka tertawa puas, seakan baru menciptakan revolusi kecil. Video itu diunggah ke medsos. Rafi hanya berharap dapat seratus view. Tapi besok paginya, saat membuka HP, ia hampir menjatuhkan perangkat itu dari tangannya.
“Gila! Dua ribu view! Komentar ribuan! Followers aku naik drastis!” teriaknya dengan mata membelalak.
Naya meloncat kegirangan, rambutnya berantakan.
“Aku udah bilang! Filter naga penyelamat bangsa!”
Damar hanya bengong.
“Hah? Jadi orang-orang beneran nonton? Mereka… Ngerti nggak sih?” dengan mulut ternganga liur sedikit menetes.
Di sisi lain Rafi langsung membaca beberapa komentar keras-keras
“Wkwk ngakak, ternyata puisi bisa sekocak ini.”
“Eh bentar, aku jadi penasaran sama Chairil Anwar asli.”
“Mana part 2? Bikin lagi dong!”
Mereka bertiga saling pandang. Untuk pertama kalinya, konten absurd mereka sukses besar.
***
Esoknya, sekolah berubah jadi pasar malam. Murid-murid sibuk meniru gaya Rafi membaca puisi sambil pasang filter naga. Bahkan guru olahraga ikut-ikutan membaca sajak sambil push-up di lapangan. Bu Raras, guru bahasa Indonesia, awalnya kaget. Tapi melihat dampaknya, ia justru tersenyum bahagia.
“Anak-anak, luar biasa! Kalian berhasil membuat sastra populer. Minggu depan, kita adakan lomba konten Puisi!”
Kepala sekolah yang dikenal tegas. Lewat pengeras suara ia berkata dengan lantang.
“Mulai bulan ini, sekolah kita meluncurkan Festival Sastra Online! Semua siswa wajib ikut. Kita tunjukkan bahwa sekolah kita literat sekaligus kreatif!”
Seketika, sastra jadi tren. Tapi bentuknya jauh dari yang dibayangkan. Sekolah berubah jadi arena riuh sastra digital. Cerpen diparodikan drama sinetron lima menit. Novel klasik dijadikan video unboxing buku. Puisi dijadikan challenge siapa yang bisa baca sambil nangis beneran. Damar merasa ada yang janggal. Ia suka karena sastra jadi ramai, tapi hatinya getir. Makna kata-kata yang dulu membebaskan kini terdistorsi jadi bahan candaan. Ia merasa makna sejati sastra sedang tergelincir, seperti matahari yang ditertawakan ketika tenggelam.
***
Malam itu, Damar bermimpi aneh. Ia berada di ruangan gelap, dikelilingi buku-buku tua yang menebarkan aroma lapuk. Kertas-kertas berguguran seperti daun di musim kemarau. Dari bayangan, muncul sosok pria berjas lusuh, wajahnya keras, sorot matanya tajam menembus garis luka kehidupan.
“Aku Chairil Anwar,” katanya tegas.
Damar tercekat.
“Penyair legendaris itu?”
“Ya. Dan aku kecewa.” Suara Chairil menggelegar, seperti petir membelah dada. Seakan menyatu dengan detak jantung ruangan.
“Kau menjadikan puisiku bahan tertawaan. Kau pikir aku menulis untuk filter naga? Kau pikir aku berteriak binatang jalang hanya untuk jadi bahan lawakan?”
Damar gemetar.
“Tapi… gara-gara itu, banyak orang jadi penasaran baca puisimu. Bukankah itu baik?”
Chairil menatapnya dalam, tatapannya bagaikan hujan yang menembus atap rapuh.
“Kebaikan tanpa pemahaman adalah kebodohan. Kalau semua hanya ikut tren, sastra akan mati saat viralitas meredup.”
Damar terbangun dengan keringat dingin. Kata-kata itu bergaung di kepalanya, tak bisa hilang. Sejak hari itu, hatinya dihantui rasa bersalah. Hari-hari berikutnya, Damar semakin resah. Suatu sore, mereka duduk bertiga di kantin. Rafi sibuk menghitung followers. Naya asyik mengedit video baru. Damar menatap buku di tangannya. ia berkata lirih pada kedua sahabatnya.
“Apa kita nggak keterlaluan?” gumamnya pelan.
Rafi mengangkat alis.
“Keterlaluan kenapa? Kita sukses! Sastra jadi ramai, Dam!”
“Tapi ramai karena salah paham. Mereka lebih kenal filter naga daripada isi puisinya.”
Naya terdiam. Lalu berkata setengah bercanda, setengah serius.
“Mungkin beginilah cara zaman kita memahami sastra. Butuh bumbu unik biar orang mau nyicip. Tanpa itu, siapa yang mau baca?”
Damar menutup bukunya pelan, seolah mengubur kegelisahannya di antara halaman. Namun hatinya tetap nyala, bagai lilin kecil yang menolak padam. Ia sadar, meski caranya nyeleneh, mereka memang berhasil membuka jalan.
***
Beberapa hari kemudian, email mengejutkan masuk ke HP Damar.
Pengirimnya: “Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.”
Isi undangan: “Dengan hormat, kami mengundang Damar, Naya, dan Rafi untuk menjadi narasumber dalam acara Nasional Literasi Digital. Konten kreatif kalian dianggap sebagai terobosan baru untuk mendekatkan sastra pada generasi muda.”
Mereka tertegun.
“Apa?! Kementerian?!” teriak Rafi hampir menjatuhkan HP.
Naya melongo.
“Serius? Kita dipanggil pejabat?”
Damar terdiam lama. Lalu tersenyum kecil. Inilah kesempatan membuktikan bahwa sastra bukan sekadar bahan tawa. Di panggung besar acara nasional itu, ribuan siswa menonton lewat layar. Rafi sempat ingin tampil kocak dengan filter naga lagi, tapi Damar menghentikannya.
“Kali ini, biar aku yang bicara.”
Ia maju, menatap audiens. Membuka buku tipis usang berisi kumpulan puisinya. Dengan suara tenang, ia membacakan puisi berjudul Sastra Bicara. Tanpa filter, tanpa musik remix. Hanya suara murni yang menggema.
Di lembah sunyi aksara
Terdengarlah bisik niskala
Dari daun-daun lontar yang meriap
Menyulam rahasia pada tiap serap
Sastra ibarat sangkakala azali
Meniupkan ruh pada kata
Menyulut cahaya dalam dada yang gulita
Menjadikan cendekia tak lagi hampa
Anak zaman menimba embunmu
Dari bait-bait yang menjelma telaga
Menyucikan akal, menyalakan sukma
Hingga kegelapan tunduk pada pelita pustaka
Di antara gelombang modern yang bingar
Sastra tetap menegakkan tiang pengetahuan
Ibarat candi yang tak rebah ditelan kala
Ia menjaga jiwa agar tak lebur dalam lalai
Maka, biarlah kata-kata menari di udara
Membangun menara di benak manusia
Tempat pendidikan bertahta
Dan kasihmu wahai sastra, jadi pelita selamanya…
Sunyi. Semua terdiam. Kali ini, orang-orang benar-benar mendengar. Kemudian Damar berkata.
“Kami memang memulai dengan bercanda. Tapi justru dari tawa itu, kami sadar, sastra bisa masuk ke hati, asal kita mau membawanya dekat dengan cara yang kita pahami. Generasi kami tidak butuh dipaksa mencintai sastra. Kami hanya butuh cara untuk merasa ditemani olehnya.”
Tepuk tangan riuh meledak. Untuk pertama kalinya, penonton diam tanpa tawa. Ada yang merenung, ada yang menunduk. Dan mungkin, di antara ratusan pasang mata itu, setiap hati benar-benar jatuh cinta pada sastra. Naya dan Rafi ikut terharu. Bahkan Pak Heru, kepala sekolah yang selalu kaku, menangis terisak. Dan di momen itu, Damar tahu, meski jalan yang mereka tempuh sempat keliru, hebatnya sastra benar-benar tetap bisa menguatkan pendidikan dari makna setiap tulisannya.
***
Malam setelah acara nasional, Damar pulang ke rumah dengan hati yang masih bergetar. Ia membuka buku harian kecilnya, menulis dengan tangan gemetar.
“Ayah, aku sudah membacakan puisi itu di hadapan ribuan orang. Rasanya seperti aku juga membacakannya untukmu. Seandainya ayah bisa mendengar…”
Air matanya jatuh menodai tinta, membuat noda seperti luka. Ia menutup buku dan merebahkan diri, tubuhnya letih tapi hatinya lega. Notifikasi HP berbunyi. Sebuah pesan masuk dari akun anonim.
“Aku menontonmu baca sajak. Suaramu mirip ayahmu dulu. Puisi yang kamu sembunyikan, sempat ia baca meski terbata. Saat itu ia hanya berbisik, anak ini menulis dengan hati. Jadi, ikuti kata hatimu Nak… Jangan hina sastra lagi!“
Damar menatap kosong ke langit-langit kamar, lalu terlelap menutup mata…
Bionarasi Penulis:
|
Syahrul Zaenudin. Seorang pria yang bisa dibilang memiliki super power unik, menjadi tempat curhat tanpa pernah mengajukan diri. Entah karena wajahnya terlalu ramah atau karena dia kurang gesit saat hendak melarikan diri, teman-temannya selalu menjadikannya target utama untuk berkeluh kesah. Dari drama percintaan, dompet yang makin tipis di akhir bulan, sampai kegagalan diet yang selalu diakhiri dengan kalimat, “Ya udah, besok aja mulai lagi,” semuanya masuk ke telinga Syahrul. |
Namun, jangan salah! Syahrul tidak hanya sekadar menampung curhatan lalu membiarkannya menguap begitu saja. Dia punya metode unik untuk mendaur ulang segala keluhan menjadi karya. Puisi, cerpen, hingga novel semua lahir dari hasil observasi (dan mungkin sedikit trauma). Bisa dibilang, Syahrul ini semacam content creator versi real life, yang bahan bakunya adalah penderitaan manusia di sekitarnya.
Motto hidupnya juga tidak kalah puitis. Menciptakan karya dari kesakitan agar tidak menjadi sebuah kesia-siaan. Terjemahan bebasnya, kalau sudah terlanjur sakit hati, ya minimal bisa dijadikan bahan tulisan. Mantan jadi inspirasi, cicilan jadi motivasi, dan deadline yang mepet jadi latihan manajemen stres. Dengan prinsip ini, Syahrul berhasil mengubah duka menjadi karya, seperti alkemis yang mengubah tembaga jadi emas.
Buat kalian yang penasaran dengannya, langsung saja follow Instagram @syahrulz77. Bukan cuma karena isinya menarik, tapi juga karena katanya orangnya tampan. Klaim ini masih dalam perdebatan, tapi ya sudahlah, mari kita hormati keyakinannya. Siapa tahu, dengan mengikuti Syahrul, hidup kalian bisa lebih… Lebih apa ya? Mmmhh… Entahlah, katanya ikuti saja! Hehe… Maaf, sedikit maksa.

