u4-Buatkan-gambar-sketsa-cerpen-berjudul-sang-halusinator
Sang Halusinator

Karya : Musa Nurdin Tauhid

 

Tinut-tinut. Suara alarm yang pertama, sinar matahari menyambut langsung dari jendela kamar, dengan perlahan aku  membuka mata secara pelan dan langsung bangkit dari kasur, setelah melakukan peregangan sedikit aku  bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri, setelah itu aku kembali ke kamar, memakai seragam, merapikan dasi kemudian menyempurnakan rambut, dan ulala orang yang ada di depan cermin sudah terlihat sangat kece  siap menembus berbagai medan. 

Namun saat ku berbalik……

Ku lihat dia, di kursi makan, sedang membaca koran, dan terlihat secangkir kopi hitam tergeletak di depannya.

Aku pun terus menatapnya, aku tak tahu ini pertanda apa, semua semangat yang ada dalam tubuhku langsung otomatis hilang, tak mengerti apa yang terjadi.

“Huh… meresahkan, apa ada hal yang bisa dilakukan untuk menghilangkan iblis-iblis ini”.

Yap itu adalah ayahku yang sudah meninggal, meskipun hanya halusinasi, tapi semua tampak memberikan kesan sesuatu untukku bahkan aku merasakan di seluruh tubuhku, semua halusinasi yang tercipta mungkin hanya sebagai pemberi pesan yang masih misteri dari mana semua pesan ini berasal.

 Dengan tenang, aku pun memejamkan mataku sebentar sambil menarik nafas yang panjang, setelah merasa lebih baik, dengan perlahan aku pun membuka mata dan melihat sosok itu pun, sudah hilang.

“Akhirnya semua sudah normal”……

Aku pun langsung membuka pintu dan berjalan dengan normal.

 Fiqi biasa dipanggil Piki. Aku tinggal di sebuah apartemen kecil yang hanya ada 3 lantai, kamarku berada di lantai paling atas dan yang paling aku suka dari apartemen kecil ini adalah tiang kecil yang ada tepat di samping apartemen, panjangnya hampir seapartemen itu sendiri, dan mengapa aku suka?, itu karena dulu setiap ingin turun dari apartemen, aku tak menggunakan tangga apartemen tapi menggunakan tiang itu untuk berseluncur langsung dari lantai 3 ke lantai 1, dan jika ditanya kenapa lewat situ, jawabnya t biar cepet aja, tapi yang kerennya aku tidak dapat sedikitpun bentuk benci dari tetanggaku, yang ada khususnya tetangga cowok malah ikut-ikutan lewat tiang, tapi itu dulu, sekarang mah tiangnya malah dicabut, katanya mau diganti pake billboard iklan atau semacamnya dan ya itu sedih sih. Selain itu, aku juga seorang guru di SDIT Ar-Rahman, di sana aku menjadi guru, guru bahasa indonesia tapi yang disayangkan di sana nggak banyak murid yang suka sama pelajaran saya…

Hingga di sekolah, semua baik-baik saja, tapi tidak saat sedang mengajar, seperti yang ku katakan bahwa tak banyak yang suka sama pelajaran saya, setiap di tengah mengajar, anak anak kebanyakan hanya bisa main-main dan mengobrol, waktu itu saya sedang sangat lelah ditambah suara anak-anak yang berisik, ternyata malah mengundang stress bagi saya, dan setiap stress pasti akan mengundang beberapa cuplikan palsu yang melintas di kepala saya.

Di atas meja, aku duduk dengan posisi kedua tangan memegang kepala dan menunduk ke bawah, sambil memejamkan mata aku pun membayangkan sesuatu.

“Terimakasih atas kerjasamanya anak-anak, kalian semua tampil maksimal di atas panggung”. Ucap saya kepada anak-anak.

“Iya pak, saya yakin kita bisa menang lomba kali ini”. Ucap Irfan.

“Betul ini semua berkat bapak”. Ucap Bagas.

“Ya, ini semua berkat bapak”. Ucap Zain.

“Baik, pengumuman pemenang lomba sekaligus penutupan akan diadakan besok, jadi kita harus banyak berdoa agar bisa menang”.

“Siap Pak”.

Keesokan harinya.

“Selamat pagi semua para peserta lomba Bulan Bahasa sepertinya semua peserta disini pada semangat ya, di sini mana suaranya yang dari SDN Garuda Abadi?”. Suara  MC di pembuka acara, penuh dengan kegembiraan di awal pembukaan tapi tidak saat pengumuman  pemenang lomba.

“Baik tanpa berlama-lama lagi kita akan umum kan pemenang setiap lomba pada acara festival bahasa kali ini”. MC melanjutkan bicaranya.

Setiap kata yang dikeluarkan MC dapat menggetarkan mental penontonnya, apalagi lomba yang berdurasi lama dan membutuhkan banyak waktu serta dikerjakan secara kelompok seperti lomba drama, itu pasti akan dipenuhi ketegangan.

“Baik sekarang akan saya umumkan pemenang lomba drama”.

Ini yang dimaksud, aku, anak-anak semuanya tegang tiada henti

“Juara 3 pemenang nyaaaaaaaaa SD Bintang Fajar!!!”. Suara Mic terdengar di seluruh sudut panggung.

Seluruh peserta dari SD Bintang Fajar langsung berteriak kencang, walaupun juara 3 tapi itu adalah perwujudan dari usaha mereka yang masih membuahkan hasil.

“Baik ini baru permulaan kok tenang saja, ku yakin kita pasti menang”. Suara kecilku di dalam hati berusaha menenangkan diri dari tekanan super suara MC.

“Juara 2 pemenang nyaaaaaaaaa”.

“Ayolah ayolah”. Ucap Bagas sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya sambil memberikan sedikit celah di bagian mata.

“SDIT Muhammadiyah!!!”. Suara Mic terdengar lebih kencang dari sebelumnya.

Para peserta dari SDIT Muhammadiyah berteriak lebih histeris dari SD Bintang Fajar.

“Baik sekarang yang paling ditunggu-tunggu, pemenang lomba drama, juara 1!!!

Pada lomba Bulan Bahasa Kali ini adalahhhhhh”. Suara MC makin lama makin naik, begitu juga ketegangan seluruh peserta lomba drama.

“Pasti ini, Pasti ini!!! Setiap gerakan, ekspresi, bahkan nada suara sudah lebih cukup untuk memenangkan lomba drama kali ini, ku yakin, ku yakin pasti juara 1 itu kita, pasti Pasti!!!”. Fiqi terlalu sibuk dengan pikirannya.

“Adalahhhhhh”. MC sengaja mengulang perkataannya.

“Ayo ayo Ayooo!!!”. Suara bagas yang gak sabaran.

Posisi Irfan sudah setengah duduk, siap-siap meloncat

Zain? Ah posisinya lebih parah, badan nya tegak setegak-tegaknya.

“Selamat untuk, S”

“D”

“I”

“T”

MCnya jahat banget.

“Ar-rahmaaaaaan!!!!!!!!!!”. Suara mic terdengar oleh seluruh rakyat sekolah.

“Yoooo Akhirnya”. Bagas teriak kencang layaknya meriam.

Irfan dengan reflek kodok langsung loncat setinggi-tingginya.

Zain? Nyawanya terbang sejenak.

“Alhamdulillah ya Allah tabarakallah”. Dengan penuh kebahagiaan aku pun langsung sujud syukur di tempat, berterimakasih atas tuhan yang maha kuasa atas segala hal yang diberikan.

“Baik silakan untuk pemenang  naik ke panggung”. Suara MC, sekarang lebih tenang dan santai.

Dengan riang kita pun naik ke atas panggung dan menunjukan kita seterang-terangnya.

Itu adalah masa kejayaan pelajaran Bahasa Indonesia, itu adalah kenangan yang tak pernah terlupakan oleh saya, dan sampai sekarang saya pun selalu berdoa.

“Semoga kenangan itu bisa terulang kembali”

“Pak, bangun pak pelajaran sudah selesai”. Suara murid yang membangunkan ku.

“Oh iya-iya, baik anak-anak kita akan tutup pelajaran kita hari ini, persiapan pulang semuanya”. Dengan putus asa aku pun langsung menutup pelajaran.

Anak-anak satu persatu pergi meninggalkan ruangan kelas, aku menyusul keluar ketika semua anak-anak sudah keluar, ditengah perjalan aku pun berjalan di lorong sekolah dengan perasaan biasa saja hingga akhirnya aku  melihat lemari kaca yang berisi seluruh penghargaan piala yang diterima oleh sekolah, dan di dalam terdapat piala yang paling mencolok, yaitu piala lomba juara 1 drama, melihat itu secara otomatis mulutku memperlihatkan senyuman kecil rasa bangga yang tak pernah terlupakan itu, dalam hati aku  berkata.

“Apa ada ya yang bisa menggantikan para muridku ya…….

Tinut-Tinut. Suara alarm kedua, seperti yang dilakukan di awal cerita aku pun bersiap siap seperti biasa, mandi, merapikan diri, melihat sosok ayah, dan pergi berangkat ke sekolah.

Setelah berada di sekolah, aku  mengajar seperti biasa, namun hari ini, terdapat satu hal yang baru terjadi, biarku ceritakan…..

Jadi disaat aku berjalan di lorong sekolah, aku berpikir takkan terjadi apa-apa, namun aku sedikit iseng dan sedikit mengintip ruangan kelas lain, waktu itu kelas dipimpin bu sinta dan ketika ingin menutup pelajaran, tiba-tiba ada satu anak yang kejang dan terjatuh dari kursi, seluruh kelas panik setelah itu ada yang menyusul kejang juga hingga hampir satu kelas ikutan kejang, dan hebatnya aku hanya melongo di jendela kelas, bu Sinta yang panik mencoba cari pertolongan di luar kelas, dia pun melihat aku dan langsung menarik aku ke dalam kelas, tapi tak disangka, ternyata anak-anak sudah balik lagi ke posisi awal, bu sinta yang awalnya kaget sekarang malah malu sendiri.

“Asli pak tadi pada kejang satu kelas!!!”. Bu sinta mencoba memercayakan diriku.

“Apalah bu, paling ibu cuma, halusinasi”. Aku mencoba mengelak dan langsung keluar dari kelas.

Dan, setelah itu, aku berjalan di lorong sekolah dengan……sedikit nyengir.

“Wkwkwkwk keren juga si Fadli”.

Melihat aksi Fadli dan kawan-kawan, aku kepikiran suatu ide.

“Ikut lomba puisi?”

“Ya, aku lihat kamu ngeprank bu sinta udah bagus banget gerakannya”.

“Nggak ah, aku malu”.

“Coba dulu kamu udah hebat loh, nanti kalau menang bisa ngebanggain satu sekolah”.

“Pokoknya nggak mau!!!”.

“Ayolah”.

Setelah percakapan yang begitu panjang.

“Yaudah deh”. Fadli menyerah.

“Oke besok ya…”.

Aku tahu, walau aku ngincernya drama, tapi aku bakal kasih dia puisi dulu untuk permulaan.

Keesokan harinya aku dan Fadli pun langsung latihan untuk lomba yang diadakan dua minggu lagi.

Puisi yang dibacakan Fadli adalah karya orang tuanya yang sudah berumur 12 tahun dari waktu dibuatnya dan masih keren untuk dibacakan, latihan demi latihan pun ditempuh, dan yang unik soal Fadli malu itu sebenarnya bohong, yang ada dia semangat malah buat tampil di depan banyak orang.

jadi sepertinya akan menjadi sangat mudah untuk memenangkan lomba, bertahun-tahun tak diberi murid, akhirnya Fiqi bisa dapet murid latihan, sudah master malah, dan anehnya selama mengajari Fadli, sosok halusinasi itu sudah jarang terlihat lagi di pikiran Fiqi. Jadi mungkin mereka memberikan ku Fadli sebagai ganti yang lebih baik

Fadli pun naik keatas panggung dengan luar biasa pede, dengan lantang Fadli  mulai berpuisi. Setiap kata yang dikeluarkan Fadli dapat membuat jurinya terkagum-kagum, pada saat pengumuman pemenang lomba, aku dan Fadli pun tinggal menunggu santai karena tahu kita akan jadi pemenangnya. Dan cerita diakhiri dengan kemenangan.

Bionarasi

Saya orangnya nggak banyak yapping jadi dengarkan baik baik apa yang akan disebutkan orang yang menjelaskan dirinya sendiri.

Namanya Musa Nurdin Tauhid umurnya baru 14 tahun, cita-cita nya pengen bikin game, walaupun otaknya kadang not responding tapi dia suka main catur dan bercita-cita punya sel Magnus. Sudah dan dadah…..

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait