u4-buatkan-gambar-sketsa-persahabatan-dua-orang-remaja-putri-yang-saling-memotivasi-ketika-malam-dari-terpuruk-sampai-berprestasi
Malam, Ketika Kata Menjadi Peluk

Dahayu Arawinda Kurnia

 

Terkadang hidup tidak berjalan sesuai dengan alur di dalam pikiran kita. Seperti diriku. Aku berjalan menyusuri trotoar kota sejak sore, tak tahu akan berujung di mana. Di dalam otakku, suara cacian selalu terngiang. Kapan aku bisa seperti mereka?, mereka yang memiliki hidup pasti dan akan selalu begitu.  Aku berhenti di tengah jalan. Menunggu datangnya mobil yang akan segera menghantamku dengan keras. Dari arah jauh aku melihat cahaya lampu mobil yang menyoroti jalan yang hampir hilang karena tidak adanya lampu di sekitar.

Niitt.. Niitt!!”. mobil itu mengeluarkan suara klakson yang terdengar nyaring di telingaku. Dia mengisyaratkan aku untuk pergi dan menghindari, tapi aku tak mau, aku tetap berdiam dan segera menutup mataku dengan erat. 

BRUkk!!”. suara hantaman mobil itu akhirnya terdengar melewati telingaku.. Namun anehnya badanku tak merasakan sakit apapun. Setelah itu hening, telingaku berdengung karena ulah suara hantaman kencang itu.

Aku membuka mataku yang sudah memerah. Mobil itu, dia tak menghantamku, dia berbelok dan menabrak tiang listrik tinggi yang terlihat menjulang ke atas.  

Dengan jalanku yang tertatih-tatih, aku menghampiri mobil itu, berharap sang pengemudi tidak mati tepat di hadapanku. Aku mengendap tersisa empat langkah lagi untuk sampai pada mobil itu. Aku pun mengintip lewat kaca mobil yang sudah retak. 

“Ya Tuhan, ada apa lagi sekarang?!. Bos memecatku dengan cacian, dan sekarang aku kehilangan mobil kesayangan!!”. Wanita di dalam mobil itu menggerutu, mencaci dirinya seperti apa yang ku lakukan kepada diriku. Air matanya mulai menetes keluar.

“Klak” Suara pintu mobil yang di buka tepat di depanku. 

Wanita itu melihatku, wajahnya pucat dan terlihat panik, sedangkan aku menatapnya polos seperti tidak ada yang terjadi. Walaupun aku merasa bersalah.

“Syukurlah.. kau masih manusia. Siapa namamu…?”. suaranya sedikit terbata-bata karena berdampingan dengan suara helaan nafas. Tapi anehnya dia tak marah padaku.

“Raya..”. ucapku dengan nada kelewat santai. “Namaku Hilda, senang bertemu denganmu, ah.. Maksudku tidak”. Itu jawabnya. Nama dia Hilda. Dari wajahnya, aku tau bahwa aku dan Hilda tidak seumuran.

Setelah percakapan itu, hanya hening yang didapat. Tak ada yang ingin memulai pembahasan yang lain. Di tengah kecanggungan aku dan Hilda mulai berjalan mengikuti arus jalan besar ini dengan suasana yang sangat tenang, karena tak ada yang mengganggu, selain isi pikiran kita sendiri.

 

***

 

Malam itu terasa lebih dingin daripada biasanya. Aku memeluk diriku sendiri, mencari kehangatan yang sangat aku butuhkan. Lalu kita berdiam sejenak setelah sampai di atas jembatan yang memperlihatkan betapa padatnya kota malam itu. Lampu-lampu yang menyala, suara bisingnya kendaraan pun terdengar dari atas sini.

 

“Kamu kenapa bisa sendirian di kota kayak gini? Udah malam, bahaya buat kamu”. Ucapan Hilda membuat lamunanku buyar. Aku memegang tanganku dengan erat, aku seolah bisu karena tak tahu harus menjawab apa.

Hilda melihatku dengan mata yang sembab, sepertinya dia tau aku tak akan menjawab pertanyaannya. “Aku seharusnya menjadi guru bahasa sampai saat ini, tapi sayangnya teman-teman kantor tak menyukaiku”. Itu ucap Hilda. Dia juga pernah kecewa. Dia sama sepertiku.

“Raya, seberat apapun hidup yang kamu jalani. Tolong jangan sampai menyerah sebelum saatnya”. Aku terdiam. Tak ada yang memperdulikanku sampai seperti ini.

“Buku ini, buku catatanku. Banyak motivasi yang ku tulis untuk seseorang yang sedang mengalami masa sulit. Haha, sedangkan diriku saja butuh motivasi itu” Hilda memberiku sebuah buku diary kecil, tempat dia menuangkan isi pikirannya yang penuh dengan kesedihan.

Aku memegang buku itu. Buku dengan luar yang sedikit usang. Ku buka lalu ku baca dengan pelan. “Hidupmu bagaikan lilin, menerangi namun melahap dirinya sendiri”. Hingga di selembar berikutnya. Muncul kata-kata yang tak pernah terbesit dalam hidupku. Kata-kata itu seperti tercipta untukku. Sekarang aku sadar, bahkan kata-kata yang dianggap remeh lebih menyuarakan diriku sendiri daripada orang-orang yang hanya menganggapku sebagai kertas basah. 

Aku mulai tersenyum. Lesung pipitku yang telah lama hilang, akhirnya terlihat lagi sekarang. Lesung pipit adalah hal yang tak sempurna, namun tidak sempurna itu yang membuatnya indah.

“Terimakasih, kak Hilda..”. Buku itu aku kembalikan kepada Hilda. Hilda menatapku dengan senang hati.

“Sekarang, coba tulis kata-kata kamu sendiri.. Ini pulpennya”. Hilda mengambil pulpen hitam dari tasnya lalu dia memberikan pulpen itu padaku. 

Aku pun mulai menyusun kata di otak ku yang selama ini ku pendam dalam-dalam, aku memegang erat pulpen itu, setelah itu aku mulai menuliskan kata-kata yang terbayang oleh pikiranku. “Kesedihanku bagaikan rumah, dan aku terjebak di dalamnya”. Itu kalimat yang ku tulis. Memang tak indah tapi bagiku itu bermakna besar. Lalu aku menatap dengan seksama kalimat yang baru saja aku tulis. Dengan tulisan tangan yang berantakan, tetapi itu membuat kesan khas untuk diriku sendiri. 

“Lihat, kata-kata kamu keren. Mungkin aku gak terlalu ngerti maksud kamu gimana. Tapi ini indah, Raya”. Hilda membaca kalimat yang aku tulis. Dia lalu tersenyum kecil untukku.

Aku seketika teringat pasal orang tuaku. Mereka bahkan sepertinya tak rindu kepadaku.. kepada gadis kecil yang selalu mereka manja, tapi buaian itu hanya dalam imajinasiku saja.  Sedari kecil, aku memang tak pandai merangkai kata. Aku tumbuh dengan rasa tak percaya diri, mungkin itu juga alasan aku di jauhi. Rasanya, berbicara dengan Hilda membuat hatiku lebih hangat. Sosok ibunda yang selama ini aku inginkan ada pada dirinya. Dia benar-benar teman yang aku butuhkan, walaupun usia kita terbilang jauh, tapi berteman tak ada batasan umur, kan?

 

***

 

Setelah pembicaraan itu. Aku dan Hilda kembali mengobrol sambil berjalan. Hilda membicarakan tentang dirinya. Sungguh menarik, namun bumbu kesedihan tetap muncul. Hingga akhirnya kita berada di pusat kota. 

“Raya. Mau ke cafe dulu? Aku yang bayar”. Aku mengangguk, tanda setuju.

Aku dan Hilda pun masuk kedalam cafe tersebut. Suasananya nyaman, ditambah alunan musik jazz membuat rasa nyamanku bertambah. Aku dan Hilda pun duduk berhadapan di atas bangku yang sudah disediakan.

“Mau pesan apa?”. Ucap pelayan yang menghampiri kita. Lalu dia menaruh selembar kertas menu yang terdaftar di cafe itu. “Raya, ayo pilih”. Ucap Hilda menyuruhku untuk memilih. 

“Aku mau es coklat ini, dan roti bakar coklat”. Hilda sungguh sangat baik. Padahal jika di ingat, aku membuat mobil miliknya rusak. Selanjutnya Hilda memilih makanan dan minuman yang dia inginkan.

“Oh ya, kak. Cafe ini akan mengadakan lomba kecil-kecilan. Jika kakak mau, kakak cukup menulis cerpen digital bertema Keistimewaan Hidup, nanti dapat hadiah buku novel dan voucher potongan harga 70%”. Ucap sang pelayan panjang lebar. Aku cukup tertarik dengan tawaran tersebut.  

“Mau?”. Ucap Hilda kepadaku. 

“Mau..”. Jawabku tanpa ragu.

“Oke kak, ini formulirnya. Nanti cerpennya Kakak bisa kirim ke nomor yang sudah tertera ya kak. Pengumuman sang juara akan diumumkan besok sekali. Untuk pesanannya ditunggu”. Sambung pelayan itu, lalu dia pergi.

 

***

 

Setelah setengah jam lamanya. Aku dan Hilda sudah selesai untuk berbincang dan makan di dalam cafe itu. Kita membicarakan hal-hal seru. Aku sangat senang hari ini, bertemu dengan Hilda rasanya dunia ku lebih berwarna.

“Oh ya. Kita mau kapan buat cerpennya? Hal ini jangan sampai lupa loh..”. Ucap Hilda di tengah-tengah canda tawa kita.

“Aku sih kapan aja ayok”. Jawabku kepada Hilda.

“Baiklah sekarang saja. Kita pergi ke rumahku dulu”. Hilda melanjutkan ucapannya. Hilda mengajakku untuk pergi kerumahnya.

Aku dan Hilda beranjak dari tempat duduk itu. Hilda membayar pesanan yang tadi kita pesan, sedangkan aku menunggunya di luar, Hilda menyuruhku menunggu Taxi yang sudah di pesan.

“ayok”. taxi sudah datang, tepat ketika Hilda menghampiriku. Aku dan Hilda naik ke dalam Taxi, perjalanan pun di mulai.

Rumah Hilda tak jauh dari sini, mungkin hanya 26 menit. Terbilang dekat.  Hingga mungkin setelah bermenit-menit lamanya, kita pun sampai di rumah milik Hilda. Rumahnya terlihat sederhana, dekorasi lampu kuning gantung yang menambah kesan hangat. Kecil, namun muat untuk semuanya, dan ternyata Hilda hidup sendiri, tak ada seseorang di rumahnya, kecuali kucing anggora abu-abu yang mengeong. Aku melangkah masuk ke dalam, jika diperhatikan, banyak sekali buku-buku tebal yang tergeletak, di atas sofa, di atas meja, dan juga di atas karpet. 

“Ayok Raya. kita mulai menulis”. Hilda duduk di atas sofa sambil mengelus kucingnya.

Lalu aku menghampirinya. Hilda mulai membuka laptopnya, dan membuka google docs. Malam itu kita berbincang lagi, kita berdiskusi tentang cerpen yang akan kita tulis. Hilda terlihat sangat mahir. Dia selalu menyarankan banyak ide untuk cerita ini. 2 jam berlalu. Jam menunjukkan pukul 1 malam. Hilda menyuruhku untuk segera tidur saja, sedangkan dirinya akan melanjutkan menulis. Aku pun tertidur di atas sofa, dengan posisi meringkuk.

 

***

 

Triing!!.. Tring!!.. Tringg!!’. Suara dari jam alarm membuatku terbangun dengan keadaan kaget. Bau mentega yang mencair membuat wanginya semerbak, sepertinya Hilda sedang memasak. Aku bangun dengan keadaan tubuh yang bau, tidak mandi 1 hari membuat aku lengket. Hilda melihatku bangun. 

“Raya. makan dulu ini, lalu kamu mandi ya”. Ucap Hilda sambil menaruh sepiring roti panggang. 

“Gimana ceritanya?, apakah sudah selesai?” Tanyaku kepada Hilda yang sedang menaruh piring.

“Sudah ku kirim.. Semoga kita menang, haha”. Jawab Hilda sedikit bercanda, dan Aku menjawabnya dengan tawa.

 

***

 

Setelah sarapan, aku pergi untuk mandi. Lalu setelah mandi, aku pun memakai baju milik Hilda, lumayan besar. Tapi tak apa karena ini nyaman.

“Raya!!.. Kita menang!! Yess..”. Teriak Hilda kepadaku. Dan aku tersenyum riang.

“Juara berapa?!”. Ucapku sambil tersenyum.

“Juara 2, tapi tak apa!! Yang penting kita juara!!”.

Aku sangat bahagia.. Aku akhirnya merasakan rasa bahagia lagi setelah sekian lamanya hal itu tak lagi muncul, dan Bahagiaku terjadi karena Hilda, dan juga Sastra.

 

Bionarasi

Dahayu Arawinda Kurnia. Perempuan asal kota subang yang lahir pada 5 januari, 2013. Dia terlahir sebagai anak yang ceria, dan banyak berbicara. Sedari kecil dia diajarkan oleh ayahnya untuk menggambar, dan dari gambar-gambar itu lah hidupnya lebih berwarna.

Dahayu sekarang sudah duduk di bangku SMP. Di masa SMP ini dia menjadi anak yang lumayan ceria dan mudah bergaul dengan teman-teman sebayanya.

Wajah dia cantik, walau jerawat-jerawat ikut menghiasi wajahnya namun hal itu tak menutup rasa kepercayaan dirinya. Tubuh dia tinggi, suaranya lantang jika sudah nyaman dengan lingkungan. Menurut orang-orang di sekitar, dia memiliki suara yang indah saat bernyanyi.

Cita-cita utama dia adalah menjadi seorang arsitek karena dia suka untuk membuat desain rumah, selain arsitek, dia ingin menjadi seorang musisi karena dia senang bermain dengan irama, entah apa saja genrenya.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait