Syahrul Zaenudin, S.Pd.
Di layar sunyi malam
Manusia berjalan tanpa nama, tanpa jejak
Hanya bayang-bayang memakan bayang-bayang
Malam kian panjang
Bintang disembunyikan tiran
Langit terkunci, bumi terpenjara
Huruf lenyap, suara bisu
Dari rahim gelap itu
Lahirlah seorang anak sulung
Matanya menyimpan sinar nirwana
Tangannya menggenggam kitab rahasia
Seolah rembulan melemparkan kunci
Seakan langit menurunkan firman
Menunggu bumi menadah aman
Huruf-huruf terbang
Menjelma burung bercahaya
Menyemai langit dengan sayap makna
Menjadi jalan bertabur doa
Kitab-kitab berbisik lirih
Siapa membaca, akan hidup
Siapa lalai, ditelan gelap
Siapa tekun, dilahirkan kembali
Setiap halaman adalah cermin
Menyingkap wajah tanpa topeng
Memintanya menoreh nasib
Dengan tinta jiwa yang meski berdarah
Anak sulung kata-kata
Jangan gentar menata aksara
Gelap ke terang berpindah lekas
Menyulam nasib, mengubah kelas
Menulis dengan kasih mesra
Menggugah zaman, mengubah bangsa
Sebaris kata terhunus tajam
Menjadi pedang menyalibkan gelap
Dan bila pena gugur tanpa gerak
Bangsa pun rebah tanpa arah
Namun jika satu huruf saja dihidupkan
Ia dapat menjelma petir
Menyambar dusta yang lama berkuasa
Menyulut bara membangunkan jiwa
Membakar belenggu meruntuhkan tirani
Pada nadi literasi
Sulung menatap dunia yang lahir kembali
Anak-anak datang dengan kaki telanjang
Meniti jalan di tanah gersang
Menyimak dongeng, meneguk pengetahuan
Bertahtakan pendidikan
Bionarasi Penulis:
|
Syahrul Zaenudin. Seorang pria yang bisa dibilang memiliki super power unik, menjadi tempat curhat tanpa pernah mengajukan diri. Entah karena wajahnya terlalu ramah atau karena dia kurang gesit saat hendak melarikan diri, teman-temannya selalu menjadikannya target utama untuk berkeluh kesah. Dari drama percintaan, dompet yang makin tipis di akhir bulan, sampai kegagalan diet yang selalu diakhiri dengan kalimat, “Ya udah, besok aja mulai lagi,” semuanya masuk ke telinga Syahrul. |
Namun, jangan salah! Syahrul tidak hanya sekadar menampung curhatan lalu membiarkannya menguap begitu saja. Dia punya metode unik untuk mendaur ulang segala keluhan menjadi karya. Puisi, cerpen, hingga novel semua lahir dari hasil observasi (dan mungkin sedikit trauma). Bisa dibilang, Syahrul ini semacam content creator versi real life, yang bahan bakunya adalah penderitaan manusia di sekitarnya.
Motto hidupnya juga tidak kalah puitis. Menciptakan karya dari kesakitan agar tidak menjadi sebuah kesia-siaan. Terjemahan bebasnya, kalau sudah terlanjur sakit hati, ya minimal bisa dijadikan bahan tulisan. Mantan jadi inspirasi, cicilan jadi motivasi, dan deadline yang mepet jadi latihan manajemen stres. Dengan prinsip ini, Syahrul berhasil mengubah duka menjadi karya, seperti alkemis yang mengubah tembaga jadi emas.
Buat kalian yang penasaran dengannya, langsung saja follow Instagram @syahrulz77. Bukan cuma karena isinya menarik, tapi juga karena katanya orangnya tampan. Klaim ini masih dalam perdebatan, tapi ya sudahlah, mari kita hormati keyakinannya. Siapa tahu, dengan mengikuti Syahrul, hidup kalian bisa lebih… Lebih apa ya? Mmmhh… Entahlah, katanya ikuti saja! Hehe… Maaf, sedikit maksa.

