u4-Buatkan-gambar-ilustrasi-untuk-puisi-yang-berjudul-Suluk-Si-Sulung__Cerita-Distopia-dari-Tanah-Retak
JUARA 1 Menulis Puisi 2025: Suluk Si Sulung: Cerita Distopia dari Tanah Retak

Syahrul Zaenudin, S.Pd.

 

Di layar sunyi malam

Manusia berjalan tanpa nama, tanpa jejak

Hanya bayang-bayang memakan bayang-bayang

 

Malam kian panjang

Bintang disembunyikan tiran

Langit terkunci, bumi terpenjara

Huruf lenyap, suara bisu

 

Dari rahim gelap itu

Lahirlah seorang anak sulung

Matanya menyimpan sinar nirwana

Tangannya menggenggam kitab rahasia

 

Seolah rembulan melemparkan kunci

Seakan langit menurunkan firman

Menunggu bumi menadah aman

 

Huruf-huruf terbang

Menjelma burung bercahaya

Menyemai langit dengan sayap makna

Menjadi jalan bertabur doa

 

Kitab-kitab berbisik lirih

Siapa membaca, akan hidup

Siapa lalai, ditelan gelap

Siapa tekun, dilahirkan kembali

Setiap halaman adalah cermin

Menyingkap wajah tanpa topeng

Memintanya menoreh nasib

Dengan tinta jiwa yang meski berdarah

 

Anak sulung kata-kata

Jangan gentar menata aksara

Gelap ke terang berpindah lekas

Menyulam nasib, mengubah kelas

Menulis dengan kasih mesra

Menggugah zaman, mengubah bangsa

 

Sebaris kata terhunus tajam

Menjadi pedang menyalibkan gelap

Dan bila pena gugur tanpa gerak

Bangsa pun rebah tanpa arah

 

Namun jika satu huruf saja dihidupkan

Ia dapat menjelma petir

Menyambar dusta yang lama berkuasa

Menyulut bara membangunkan jiwa

Membakar belenggu meruntuhkan tirani

 

Pada nadi literasi

Sulung menatap dunia yang lahir kembali

Anak-anak datang dengan kaki telanjang

Meniti jalan di tanah gersang

Menyimak dongeng, meneguk pengetahuan

Bertahtakan pendidikan

Bionarasi Penulis:

 

    Syahrul Zaenudin. Seorang pria yang bisa dibilang memiliki super power unik, menjadi tempat curhat tanpa pernah mengajukan diri. Entah karena wajahnya terlalu ramah atau karena dia kurang gesit saat hendak melarikan diri, teman-temannya selalu menjadikannya target utama untuk berkeluh kesah. Dari drama percintaan, dompet yang makin tipis di akhir bulan, sampai kegagalan diet yang selalu diakhiri dengan kalimat, “Ya udah, besok aja mulai lagi,” semuanya masuk ke telinga Syahrul.

Namun, jangan salah! Syahrul tidak hanya sekadar menampung curhatan lalu membiarkannya menguap begitu saja. Dia punya metode unik untuk mendaur ulang segala keluhan menjadi karya. Puisi, cerpen, hingga novel semua lahir dari hasil observasi (dan mungkin sedikit trauma). Bisa dibilang, Syahrul ini semacam content creator versi real life, yang bahan bakunya adalah penderitaan manusia di sekitarnya.

Motto hidupnya juga tidak kalah puitis. Menciptakan karya dari kesakitan agar tidak menjadi sebuah kesia-siaan. Terjemahan bebasnya, kalau sudah terlanjur sakit hati, ya minimal bisa dijadikan bahan tulisan. Mantan jadi inspirasi, cicilan jadi motivasi, dan deadline yang mepet jadi latihan manajemen stres. Dengan prinsip ini, Syahrul berhasil mengubah duka menjadi karya, seperti alkemis yang mengubah tembaga jadi emas.

Buat kalian yang penasaran dengannya, langsung saja follow Instagram @syahrulz77. Bukan cuma karena isinya menarik, tapi juga karena katanya orangnya tampan. Klaim ini masih dalam perdebatan, tapi ya sudahlah, mari kita hormati keyakinannya. Siapa tahu, dengan mengikuti Syahrul, hidup kalian bisa lebih… Lebih apa ya? Mmmhh… Entahlah, katanya ikuti saja! Hehe… Maaf, sedikit maksa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait