Novita Nurul Fauziah, S.Pd.
Kau dan aku
adalah sas
dan tra
Tergulung rindu pada penyair tua yang tak bisa
disebut namanya
Apa kabar pilu matamu?
Kudengar kau mendekap gundah di pelataran
Jaleuleuuu…
Tulak tuja eman
Teriakmu membawa gelak, dan purnama
duduk menopang dagu menyaksikan kita
menguntai kata
memintal diksi-diksi arkais menjadi sorak sorai
Do mika do mikado eska
Eska do eskado beya beyo
Rona mata layaknya jemari yang hangat bertaut
bahagia
Kau dan aku adalah sastra
Kau luluhkan jiwa gersang dalam dekap kata yang menggema
Di lapangan berdebu itu
Atau bahkan pada desir gerimis sekalipun
Berkecipak mencipratkan genang-genang kenang
dan rindu yang bergulung meski tak berpayung
Sir sir pong dhele kopong
Sir sir pong dhele kopong…
Kau dan aku kini menjelma penyair tua
Memutar cuplikan rindu yang tergerus waktu
Selamanya kan ku tanam rona matamu
yang bersinar, dan warna kulit santanmu di dalam nadiku
Serta deret gigi putih yang senantiasa menyeru bersenandung kidung arkais itu
Pacici-cici putri serelek tembang celempung
kalau mau
kembang apa?
Lalu dengan lantang memanggil nama kecilku, yang kau
dengar saat menguping percakapan rahasiaku dengan
bapak dan penyair tua
“Mawar Rengganis!”
Si kuncir surai kuda
Si bulat purnama
Si mata satu garis
Kita mungkin begitu berbeda dalam segala
Tetapi aku dan kau bagaikan sas dan tra
Yang menyatu
Tak terbantahkan
Novita Nurul Fauziah, guru bahasa daerah di SMPIT Al-Ukhuwah. Baginya, sastra dan malam adalah ruang tenang untuk berkontemplasi. Memiliki banyak daftar harapan, salah satunya menerbitkan buku tunggal. Beberapa kali pernah mendapatkan penghargaan di bidang sastra; cerpen dan puisi. Temui ia di instagram @novitanfauzia.

