u4-Buatkan-gambar-sketsa-untuk-cerpen-berjudul-Jejak-di-Jalan-Raya
Jejak di Jalan “Raya”

Ghaida Putri Rasid

 

Salju yang tebal membuat penduduk setempat termasuk aku sulit untuk bepergian keluar rumah. Angin dingin menusuk kulitku begitu aku meninggalkan gedung apartemen untuk pergi ke Toronto Reference Library, 789 yonge street.

Begitu sampai di sana, baru beberapa langkah aku memasuki pintu perpustakaan tidak lama ponselku berdering memecah keheningan di dalam sunyi perpustakaan.

“Halo, nak… Bagaimana kabarmu? Ibu, Ayah dan Naya rindu sekali denganmu. Kapan kamu pulang ke Indonesia?” Baru aku sadari, satu tahun sudah aku lalui di Kanada. Pantas saja keluargaku rindu padaku. 

“Tunggu musim dingin selesai ya, Bu. Cuacanya sedang tidak bagus, terkadang ada badai salju yang membuat penduduk tidak bisa keluar rumah. Aku juga harus menyelesaikan novelku yang ke sepuluh dulu, baru aku pulang dan merayakannya,” kataku memberi penjelasan kepada Ibu. Percakapanku dengan ibu tidak terlalu lama, cukup memberi kabar lalu aku menutup telepon sambil mencari tempat duduk.

 

Saat aku masih kecil, aku adalah anak nakal. Tapi kata Ayah, “ di usia dua belas tahun, sifat dan sikapmu berubah jauh lebih baik, Raya”. Aku menyadarinya dan itu semua entah bagaimana karena karya-karya puisi dan novel yang Ayah beri padaku. Hingga tetangga di daerah rumahku juga ikut larut dalam dunia sastra yang Ayah kenalkan pada mereka. Pada saat aku masih SMA, aku sering bermain dengan bocah-bocah SD di dekat rumah. Mereka penggemar beratku, katanya. Sekarang aku tidak tahu bagaimana kabar bocah-bocah tersebut. Setelah delapan tahun menjadi penulis sukses, aku menjadi jarang berada di rumah. Malah lebih sering berkelana ke luar  kota, bahkan negara. 

 

Aku tersadar dari lamunanku dan melihat seorang lelaki di hadapanku yang berpakaian serba hitam dan syal abu-abu di lehernya. Ia menatapku dengan tatapan aneh yang aku tidak tahu apa maksudnya. Kami saling memandang sebentar lalu aku berpaling dan duduk sambil membaca buku. Sesekali, aku memandang sekilas lelaki itu karena perasaanku gelisah selama membaca buku. Perasaan canggung dan tidak tenang memenuhi tiga jamku di perpustakaan. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari sana.

Begitu melangkahkan kaki keluar dari perpustakaan, pandanganku hampir tertutupi oleh badai salju yang sudah semakin kencang. Kendaraan umum yang biasanya lewat, kini semakin berkurang karena kebanyakan penduduk berdiam diri di dalam rumah masing-masing. Aku terpontang-panting mencari solusi untuk pulang ke apartemen dengan angin kencang yang meniup tubuhku. Akhirnya terpikirkan olehku untuk berjalan kaki menuju stasiun kereta bawah tanah. Meskipun, dalam sepuluh menit aku harus menerjang badai salju yang perlahan bertambah kencang itu. Tapi tiba-tiba… Ponselku berdering-lagi!

“Ada apa, Bu?” Tanyaku sedikit berteriak karena berisiknya suara angin.

“Kamu masih berada di perpustakaan, Raya?” Ibu bertanya balik padaku.

“Iya, Bu. Tapi sekarang aku mau menuju stasiun kereta bawah tanah untuk pulang ke apartemen,” gemuruh angin mengiringi suaraku di telepon.

“Syukurlah kalau seperti itu, perasaan Ibu tidak enak. Kedengarannya sedang ada badai, ya? Kalau begitu cepatlah kembali ke apartemen, nak,” kata Ibu khawatir padaku.

Setelah menutup telepon, aku bergegas pergi ke stasiun kereta bawah tanah. Tak kusangka, betapa ramainya pengunjung di stasiun tersebut. 

 

Setelah susah payah aku berdesakan dengan pengunjung lain, akhirnya aku tiba di apartemen.

Karena perkiraan musim dingin akan selesai dua hari lagi, maka aku putuskan untuk merapikan barang dan membersihkan apartemenku.

 

Tiga hari berlalu. Salju tebal yang biasanya menyelimuti jalanan, perlahan menghilang tenggelam oleh musim semi. Pagi itu aku terbangun dengan sinar matahari yang menyapa melalui jendela apartemenku, lalu dengan segera aku mengunggah naskah novelku untuk diterbitkan. Setelah setengah jam berkutat dengan naskah, aku bergegas untuk bersiap berangkat ke bandara. Untungnya, cuaca mendukung penerbangan pesawat hari itu.

 

Setelah dua puluh lima jam lebih aku berada di atas awan sambil ditemani buku novel yang ku baca, akhirnya aku sampai di Kebayoran Lama, Jakarta. Seperti biasa, walau malam telah menunjukkan pukul delapan, aku masih bisa merasakan hiruk-pikuk kota tersebut. 

 

Sesampainya aku di rumah sederhana yang berwarna abu-abu itu, aku langsung mengetuk pintu berniat mengejutkan keluargaku. Namun tidak ada yang membukanya. Akhirnya aku membuka gagang pintu itu dengan tanganku sendiri dan ternyata… Tidak dikunci. 

Begitu memasuki rumah, aroma masakan Ibu menyapa hidungku. Menyadari hal tersebut, aku langsung menuju ke dapur mengikuti asal aroma itu berada.

“Waahh… Masak apa ini? Aromanya tercium hingga pintu depan yang tidak dikunci.” Aku masuk ke dapur tiba-tiba, sambil mengingatkan keluargaku bahwa pintu depan tidak dikunci.

Serentak keluargaku menolehkan kepalanya ke belakang. Gembira bukan main, kami berpelukan  sangat erat. Kemudian aku melepaskan pelukan itu karena aku takut masakan Ibu menjadi gosong.

“Lho, Naya? Bukannya tadi Ayah memintamu untuk mengunci pintu depan saat kita semua berada di dapur?” Tanya Ayah kepada Adikku yang sekarang sudah beranjak ke kelas tiga SMA.

“Hehehe, maafkan aku. Aku lupa karena terlalu bersemangat memasak makanan untuk makan malam bersama, “ jawab Naya sambil tersenyum malu.

“Sudah… Sudah… Sekarang bantu Ibu membawa semua masakan yang sudah matang ini ke meja makan,” Ibu menghentikan percakapan Ayah dan Naya. 

 

Setelah semua makanan tertata rapi di meja makan, kami sekeluarga duduk santai menyantap makan malam sambil sedikit berbincang-bincang.

“Bagaimana kabar tetangga-tetangga komplek yang dulu sering Ayah ajak untuk membedah isi puisi?” Ucapku sambil terkekeh pelan.

“Ayah senang, sekarang mereka lebih bersemangat terhadap pendidikan. Ayah juga heran sendiri. Bocah-bocah komplek yang dulunya suka membuat onar dan nakal sepertimu dulu, sekarang bercita-cita tinggi dan lebih ramah,” Ayah bercerita dengan heran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tapi sekaligus memancarkan kesenangan di wajahnya.

“Oh iya! Besok pagi aku mau mengajak Ayah, Ibu dan Naya ke Gramedia Gandaria. Ada acara pameran literasi sekalian merayakan novelku yang ke sepuluh,” ucapku dengan riang.

Sepertinya setengah jam kami habiskan untuk  makan malam bersama dan berbincang. Setelah itu, aku membantu keluargaku merapikan bekas makan malam kami tadi.

 

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Karena besok ada pameran literasi, jadi aku mengingatkan keluargaku untuk tidak tidur terlalu larut.

 

Keesokan paginya, aku terbangun dari tidur yang sangat nyenyak. Rasanya seperti mimpi. Karena begitu membuka mata, aku langsung melihat ke sekitar kamar tidur yang sudah lama aku rindukan itu. Rak buku yang terisi penuh oleh novel yang aku beli sejak usia dua belas tahun, langsung terlihat di depan mata. Aku bergegas mandi dan bersiap-siap karena pameran literasi dimulai satu jam lagi.

 

Setelah sarapan dan bersiap, aku dan keluargaku naik ke mobil untuk berangkat menuju ke Gramedia Gandaria, yang jaraknya dekat, hanya sepuluh menit dari rumah. Semua keluargaku sudah masuk ke dalam mobil, dan hanya tersisa aku yang menutup pagar rumah. Tiba-tiba… Salah satu bocah perempuan usianya kira-kira sekitar lima belas tahun, datang menyapaku.

“Kak Raya, ya?” Aku kaget. Karena seingatku, bocah perempuan ini adalah bocah SD yang sering bermain denganku dulu pada saat aku masih SMA.

“Eh? Iya benar aku Raya,” jawabku sambil tersenyum.

“Aku Anna. Dulu saat masih SD, aku dan teman-teman sering bermain dengan kakak. Membaca puisi bersama, menulis cerita bersama, dan masih banyak lagi. Sekarang kakak jarang berada di rumah, ya…” Benar dugaanku. Ia adalah bocah SD yang dulu suka bermain denganku. Kami berbincang-bincang sebentar lalu aku menawarkan dirinya untuk datang ke pameran literasi.

“Anna, kakak tidak akan terlalu lama. Karena harus menghadiri pameran literasi di Gramedia Gandaria, kamu mau datang ke sana tidak?”

“Waahh!!!… Mau kak! Aku akan mengajak teman-temanku yang lain terlebih dahulu,” jawab Anna dengan ekspresinya yang seolah sudah tidak sabar.

Setelah selesai berbincang, aku juga masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju Gramedia bersama keluargaku.

 

Sepuluh menit di perjalanan, kami pun sampai. Sudah nampak jelas ramainya pengunjung di Gramedia hingga kerumunannya keluar dari pintu gedung tersebut.

Bukan main gaduh dan riuhnya ketika aku datang dan melangkahkan kaki ke panggung bersama penulis-penulis terkenal lainnya.

 

Setelah dua jam, pameran literasi berlangsung dengan meriah, pengunjung diperbolehkan untuk melihat semua karya-karya terbaru yang baru diterbitkan oleh penulis-penulis yang mengisi pameran literasi ini. Aku senang melihat pengunjung menikmati dan menyukai karya-karya kami, para penulis. Pandanganku seolah tak bisa luput dari mereka yang sedang berlalu-lalang melihat novel-novel kami. Bahkan aku melihat Anna, bocah perempuan yang tidak lain adalah tetanggaku itu ternyata benar-benar menghadiri acara pameran literasi ini. 

 

Entah mengapa, sorot mataku tiba-tiba tertuju pada tatapan seorang lelaki yang berdiri di dekat ujung rak buku. Kulihatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, sepertinya lelaki itu berusia sekitar 22 tahun, persis seusiaku. Lalu aku menatap matanya dan aku hafal betul dengan tatapan aneh yang khas memancarkan kegugupan sekaligus kekaguman.

Tidak salah lagi. Lelaki itu adalah lelaki yang aku jumpai di perpustakaan Kanada. 

Bionarasi Penulis

 

Ghaida Putri Rasid. Orangnya suka keliling Eropa, tapi hanya sebatas di novel saja. Hobi dia nulis, baca novel sama dengerin lagu (Enhypen, Olivia Rodrigo, FloyyMenor, Sabrina Carpenter, dan masih banyak lagi). “Every person has at least one secret that will break ur heart,” itu quotes andalan dia yang dikutip dari sebuah novel. Coba tebak dari novel apaaa??? Oh iya! Dia juga ngestan salah satu member Enhypen, kalo nama Instagramnya @g_lvseung pasti tau kaann siapa salah satu member ituuu. Kalo mau kenalan, tukar playlist atau tukar novel, boleh follow Ig dia yang itu yaaaa.

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait