Karya: Muhammad Fadli Fahreza
“Kres,” Sebuah kertas buku lama dibuka dengan halus.
Suara burung berkicauan, udara pagi yang segar, langit-langit angkasa terlihat biru. saya pergi pulang kampung ke desa asal saya. Tapi ada yang sedikit berbeda dari kampung saya ini. Ibu saya berpendapat bahwa wajah saya cukup tampan, tapi sebaliknya, ayah saya malah berpendapat bahwa wajah saya seperti babi hutan yang meringis kesakitan. Saya Prasdjo. Seorang yang gagah berani, dan juga adventurer boy. Kalau kalian bertanya gender saya apa, ya jelas-jelas saya ini seorang pemuda, namanya saja sudah Prasdjo, masa perempuan. Masa bodo soal gender. Ya… Sepertinya obrolan kita berdua harus berakhir disini. Jadi… selamat tinggal.
“Desa tersayang! Saya dataaang!” Saya berlari-lari kecil dengan sesekali menutup mata, sambil menikmati udara yang segar. Rasanya setiap hembusan angin masuk menyelusup ke seluruh rongga-rongga tubuh.
“Gubrak!!” Saya terjatuh karena tersandung sesuatu yang keras.
“Tadi itu apa? Keras sekali.”
Saat itu pun saya tersadar bahwa saya telah menendang pepohonan yang tumbang, entah kenapa bisa tumbang? Tapi menurut saya, ini adalah penebangan liar secara masif.
“Tunggu sebentar, ini saya salah lihat kan? Kenapa pepohonannya banyak yang tumbang? semua pasti ulah para penebang liar, kalau begini terus tidak bisa dibiarkan, ini harus segera diberantas,” saya berucap acuh tak acuh kepada diri sendiri.
“Uhuk-uhuk, apa-apaan ini. Asap? Banyak sekali asapnya. Apa mereka tak pernah belajar? Sudah tahu asap itu sangat berbahaya bagi paru-paru, bahkan bisa menyebabkan TBC!, penyakit yang membuat pengidapnya batuk berdarah dan sulit bernapas,” kemarahan saya sudah seperti termos yang terisi dengan air lalu mendidih.
Saat itu saya dikagetkan oleh seseorang. Tampangnya seperti ningrat yang sangat dihormati banyak masyarakat. Dan saya mulai memastikan, siapa sebenarnya orang yang ada dihadapan saya ini. Ketika perlahan-lahan saya hampiri, seketika orang tersebut menengok dengan wajah aneh.
“Jan-eh… Anda siapa!?” Hampir saja saya mengeluarkan kata-kata mutiara.
“Whoa, santai saja bung, lagi pula bung ini mau kemana,” dia mencoba menenangkan saya.
“Saya… Jawab pertanyaan saya dulu. Baru saya beritahu saya mau kemana!” Berbicara tegas kepadanya.
“Baiklah kalau itu kemauan bung. Perkenalkan, saya hardiningrat. Jadi bagaimana sekarang, sudah tenang. Lagi pula saya ini orang penting di desa ini, jadi saya tak ada urusan dengan bung,” ucapnya menggunakan nada yang agak menyombongkan diri.
Lalu dia pergi meninggalkan saya sendirian di tempat yang sunyi ini. Memang orang aneh, tiba-tiba pergi.
***
Rumah tua dengan halamannya yang dipenuhi semak belukar. Saat itu ada dua orang yang sedang menunggu Prasdjo.
“Lihat bu itu Prasdjo! Dia sudah pulang!” Ayah berkata dengan nada yang kegirangan.
“Ibu sudah tak sabar lagi. Ingin sekali memeluknya.”
“Ayah, ibu! Sebenarnya apa yang telah terjadi pada desa kita!!!” Saya berteriak kepada orang tua saya dengan kesal.
“Sepertinya dia kecewa kepada de-” ucapan ayah dipotong Prasdjo.
“Tidak, saya bisa perbaiki ini semua dengan pendidikan.”
“Tapi kalau ini semua diperbaiki, nanti desa kita akan terkena musibah.”
“Musibah apa? Memangnya kenapa kalau diperbaiki?”
“Jadi musibah tersebut adalah ramalan tuan kepala desa,” kata ayah. Mulutnya bergetar kencang.
“Ohh, jadi begitu. Sekarang saya sudah tahu kenapa semuanya jadi begini,” saya bergumam kecil dengan muka masam.
“Apa kalian percaya kepada sebuah ramalan bodoh? pendidikan lebih penting dari kartu tarot, lebih penting dari zodiac, lebih penting lagi dari pada sebuah bola ramalan. Itu semua adalah tipu daya para penipu. Mereka hanya ingin keuntungan dari desa kita!” Ucap saya.
“Tapi yang tuan katatakan memang ada benarnya. Saat itu kami tak percaya, tapi seiring waktu desa kita selalu terkena musibah. Makanya kami percaya,” ucap ayah.
Saat itu pun saya memperluas pendidikan kepada seluruh masyarakat. Tapi masih ada saja yang percaya pada ramalan tersebut. Jadi saya pun berpidato ke para warga.
“Warga sekalian. Saya disini berpidato untuk membenarkan bahwa ramalan itu hanya pembodohan berkedok menyejahterakan,” dan terus berbicara di depan warga, dengan diselipkannya puisi, sampai akhir pidato.
Walau pun sudah berpidato, tetap saja hasilnya nihil. Saya terus mencari cara agar bisa mendapatkan kepercayaan, tapi Allah belum memberikannya. Setelah saya pulang berpidato, saya duduk di kasur dengan rasa lelah kemudian membaringkan diri menatap kosong ke langit-langit kamar hingga akhirnya saya pun tidur terlelap.
***
Ruangan kosong dengan satu lampu tua yang berkedip-kedip. Di situ saya duduk terdiam tak bisa bergerak.
“Tujuan kamu belum berakhir. Masih banyak lagi untuk dicapai nak.”
“Siapa kau!? Saya ada dimana!?”
Saat saya melihat wajahnya, saya sangat terkagum. Karena yang ada di hadapan saya ini adalah pak Ir. Soekarno, yaitu idola saya.
“P-p-pak Ir. Soekarno! Ini sungguhan, saya tidak menyangka anda akan menemui saya,” ucap saya gegirangan.
“Ingatlah tujuanmu belum berakhir, banyak hal yang belum kau capai. Dan kesuksesan ada di depan matamu.”
Dia menghilang dengan samar-samar dan akhirnya saya terbangun dari mimpi tersebut.
“Argh, tadi itu terlalu cepat.”
Saya sangat kecewa saat itu. Namun sesaat terlintas sesuatu di pikiran saya.
***
“Muahaha, Prasdjo-Prasdjo. Well, bung takkan bisa melakukannya. Mereka semua sudah percaya kepada saya, si tuan yang maha raja ini. Semuanya takkan terselamatkan lagi, yang tersisa hanyalah uang-uang yang perlu saya ambil, dan pindah desa. Akhirnya saya kaya raya, hahaha.”
“Tuk-tuk.” suara pintu diketuk pelan.
“Masuk!” Ucap seseorang tersebut keras.
“Saya tahu bahwa kaulah yang menyebabkan semua kerusakan ini. Benarkan, tuan Hardiningrat,” ucap saya kepada tuan Hardi.
“Well well well, pelawak murahan. ternyata kau menyadarinya. Tapi bung tetap saja akan gagal. Lagi pula bung tak memiliki bukti apapun.”
“Oh ya, jika kau menyadarinya sejak tadi, mungkin saya sudah gagal,” ucap saya, lalu mematikan walkie talkie yang saya sembunyikan di saku celana.
“Tunggu, apakah itu-”
“Semuanya sudah terlambat my brother. Tangkap dia!!!”
“Apa-apaan ini. Lepaskan saya, sialan kau Prasdjo!”
Ya, si bajingan tersebut sudah ditangkap, dia dikirimkan ke pihak berwenang. Saat ini saya perlu memperbaiki semuanya. Mulai dari reboisasi, penyuburan tanah, sawah dan banyak lagi. Saya kebingungan harus mulai mendekati warga dengan apa. Aha! Saya akan mendekatinya dengan sastra, saya akan memberikan pendidikan dengan tampilan drama tradisional wayang kulit kepada seluruh warga, dan pendidikan terhadap warga tersampaikan dengan suka cita sehingga pada akhirnya pekerjaan mereka menjadi lebih mudah dan tentunya ringan. Saya bersama keluarga memberikan bansos, pendidikan literasi, numerasi, sains, teknologi dan banyak lagi. Dan akhirnya mengadakan sebuah festival budaya dan sastra secara rutin di desa kami, untuk menguatkan pendidikan.
“Nak Prasdjo! kau dapat surat undangan dari pak Ir. Soekarno untuk menghadiri dan menjadi salah satu anggota organisasi ternama pembentuk kemerdekaan!” Hal yang sangat didambakan Prasdjo baru saja diucapkan ayahnya.
“Hah apa! Ini sungguhan ayah!?” Ucap saya kegirangan. Saat itu jantung saya berdetak kencang. Ketika membaca surat tersebut, saya sudah seperti burung yang beterbangan ke sana ke mari, dan berkicauan. Hati saya berbunga-bunga, dan saya menerima sepucuk surat tersebut dengan rasa bahagia.
***
“Plak,” buku ditutup dengan pelan.
“Jadi begitulah cerita kakek buyut kalian. Sekarang kalian puas anak-anak,” terdengar suara ayah yang berbicara kepada anak-anaknya.
“Iya kami puas! Jadi begitu perjuangan kakek buyut. Terdengar menyenangkan, kami juga ingin seperti kakek buyut, ayah!” Ucap anak-anaknya kegirangan
“Suatu saat nanti ada waktunya.”
Buku harian lama itu disimpan kembali ke rak buku yang berlabelkan buku-buku sejarah keluarga di depan raknya.
Karya: Muhammad Fadli Fahreza
“Kres,” Sebuah kertas buku lama dibuka dengan halus.
Suara burung berkicauan, udara pagi yang segar, langit-langit angkasa terlihat biru. saya pergi pulang kampung ke desa asal saya. Tapi ada yang sedikit berbeda dari kampung saya ini. Ibu saya berpendapat bahwa wajah saya cukup tampan, tapi sebaliknya, ayah saya malah berpendapat bahwa wajah saya seperti babi hutan yang meringis kesakitan. Saya Prasdjo. Seorang yang gagah berani, dan juga adventurer boy. Kalau kalian bertanya gender saya apa, ya jelas-jelas saya ini seorang pemuda, namanya saja sudah Prasdjo, masa perempuan. Masa bodo soal gender. Ya… Sepertinya obrolan kita berdua harus berakhir disini. Jadi… selamat tinggal.
“Desa tersayang! Saya dataaang!” Saya berlari-lari kecil dengan sesekali menutup mata, sambil menikmati udara yang segar. Rasanya setiap hembusan angin masuk menyelusup ke seluruh rongga-rongga tubuh.
“Gubrak!!” Saya terjatuh karena tersandung sesuatu yang keras.
“Tadi itu apa? Keras sekali.”
Saat itu pun saya tersadar bahwa saya telah menendang pepohonan yang tumbang, entah kenapa bisa tumbang? Tapi menurut saya, ini adalah penebangan liar secara masif.
“Tunggu sebentar, ini saya salah lihat kan? Kenapa pepohonannya banyak yang tumbang? semua pasti ulah para penebang liar, kalau begini terus tidak bisa dibiarkan, ini harus segera diberantas,” saya berucap acuh tak acuh kepada diri sendiri.
“Uhuk-uhuk, apa-apaan ini. Asap? Banyak sekali asapnya. Apa mereka tak pernah belajar? Sudah tahu asap itu sangat berbahaya bagi paru-paru, bahkan bisa menyebabkan TBC!, penyakit yang membuat pengidapnya batuk berdarah dan sulit bernapas,” kemarahan saya sudah seperti termos yang terisi dengan air lalu mendidih.
Saat itu saya dikagetkan oleh seseorang. Tampangnya seperti ningrat yang sangat dihormati banyak masyarakat. Dan saya mulai memastikan, siapa sebenarnya orang yang ada dihadapan saya ini. Ketika perlahan-lahan saya hampiri, seketika orang tersebut menengok dengan wajah aneh.
“Jan-eh… Anda siapa!?” Hampir saja saya mengeluarkan kata-kata mutiara.
“Whoa, santai saja bung, lagi pula bung ini mau kemana,” dia mencoba menenangkan saya.
“Saya… Jawab pertanyaan saya dulu. Baru saya beritahu saya mau kemana!” Berbicara tegas kepadanya.
“Baiklah kalau itu kemauan bung. Perkenalkan, saya hardiningrat. Jadi bagaimana sekarang, sudah tenang. Lagi pula saya ini orang penting di desa ini, jadi saya tak ada urusan dengan bung,” ucapnya menggunakan nada yang agak menyombongkan diri.
Lalu dia pergi meninggalkan saya sendirian di tempat yang sunyi ini. Memang orang aneh, tiba-tiba pergi.
***
Rumah tua dengan halamannya yang dipenuhi semak belukar. Saat itu ada dua orang yang sedang menunggu Prasdjo.
“Lihat bu itu Prasdjo! Dia sudah pulang!” Ayah berkata dengan nada yang kegirangan.
“Ibu sudah tak sabar lagi. Ingin sekali memeluknya.”
“Ayah, ibu! Sebenarnya apa yang telah terjadi pada desa kita!!!” Saya berteriak kepada orang tua saya dengan kesal.
“Sepertinya dia kecewa kepada de-” ucapan ayah dipotong Prasdjo.
“Tidak, saya bisa perbaiki ini semua dengan pendidikan.”
“Tapi kalau ini semua diperbaiki, nanti desa kita akan terkena musibah.”
“Musibah apa? Memangnya kenapa kalau diperbaiki?”
“Jadi musibah tersebut adalah ramalan tuan kepala desa,” kata ayah. Mulutnya bergetar kencang.
“Ohh, jadi begitu. Sekarang saya sudah tahu kenapa semuanya jadi begini,” saya bergumam kecil dengan muka masam.
“Apa kalian percaya kepada sebuah ramalan bodoh? pendidikan lebih penting dari kartu tarot, lebih penting dari zodiac, lebih penting lagi dari pada sebuah bola ramalan. Itu semua adalah tipu daya para penipu. Mereka hanya ingin keuntungan dari desa kita!” Ucap saya.
“Tapi yang tuan katatakan memang ada benarnya. Saat itu kami tak percaya, tapi seiring waktu desa kita selalu terkena musibah. Makanya kami percaya,” ucap ayah.
Saat itu pun saya memperluas pendidikan kepada seluruh masyarakat. Tapi masih ada saja yang percaya pada ramalan tersebut. Jadi saya pun berpidato ke para warga.
“Warga sekalian. Saya disini berpidato untuk membenarkan bahwa ramalan itu hanya pembodohan berkedok menyejahterakan,” dan terus berbicara di depan warga, dengan diselipkannya puisi, sampai akhir pidato.
Walau pun sudah berpidato, tetap saja hasilnya nihil. Saya terus mencari cara agar bisa mendapatkan kepercayaan, tapi Allah belum memberikannya. Setelah saya pulang berpidato, saya duduk di kasur dengan rasa lelah kemudian membaringkan diri menatap kosong ke langit-langit kamar hingga akhirnya saya pun tidur terlelap.
***
Ruangan kosong dengan satu lampu tua yang berkedip-kedip. Di situ saya duduk terdiam tak bisa bergerak.
“Tujuan kamu belum berakhir. Masih banyak lagi untuk dicapai nak.”
“Siapa kau!? Saya ada dimana!?”
Saat saya melihat wajahnya, saya sangat terkagum. Karena yang ada di hadapan saya ini adalah pak Ir. Soekarno, yaitu idola saya.
“P-p-pak Ir. Soekarno! Ini sungguhan, saya tidak menyangka anda akan menemui saya,” ucap saya gegirangan.
“Ingatlah tujuanmu belum berakhir, banyak hal yang belum kau capai. Dan kesuksesan ada di depan matamu.”
Dia menghilang dengan samar-samar dan akhirnya saya terbangun dari mimpi tersebut.
“Argh, tadi itu terlalu cepat.”
Saya sangat kecewa saat itu. Namun sesaat terlintas sesuatu di pikiran saya.
***
“Muahaha, Prasdjo-Prasdjo. Well, bung takkan bisa melakukannya. Mereka semua sudah percaya kepada saya, si tuan yang maha raja ini. Semuanya takkan terselamatkan lagi, yang tersisa hanyalah uang-uang yang perlu saya ambil, dan pindah desa. Akhirnya saya kaya raya, hahaha.”
“Tuk-tuk.” suara pintu diketuk pelan.
“Masuk!” Ucap seseorang tersebut keras.
“Saya tahu bahwa kaulah yang menyebabkan semua kerusakan ini. Benarkan, tuan Hardiningrat,” ucap saya kepada tuan Hardi.
“Well well well, pelawak murahan. ternyata kau menyadarinya. Tapi bung tetap saja akan gagal. Lagi pula bung tak memiliki bukti apapun.”
“Oh ya, jika kau menyadarinya sejak tadi, mungkin saya sudah gagal,” ucap saya, lalu mematikan walkie talkie yang saya sembunyikan di saku celana.
“Tunggu, apakah itu-”
“Semuanya sudah terlambat my brother. Tangkap dia!!!”
“Apa-apaan ini. Lepaskan saya, sialan kau Prasdjo!”
Ya, si bajingan tersebut sudah ditangkap, dia dikirimkan ke pihak berwenang. Saat ini saya perlu memperbaiki semuanya. Mulai dari reboisasi, penyuburan tanah, sawah dan banyak lagi. Saya kebingungan harus mulai mendekati warga dengan apa. Aha! Saya akan mendekatinya dengan sastra, saya akan memberikan pendidikan dengan tampilan drama tradisional wayang kulit kepada seluruh warga, dan pendidikan terhadap warga tersampaikan dengan suka cita sehingga pada akhirnya pekerjaan mereka menjadi lebih mudah dan tentunya ringan. Saya bersama keluarga memberikan bansos, pendidikan literasi, numerasi, sains, teknologi dan banyak lagi. Dan akhirnya mengadakan sebuah festival budaya dan sastra secara rutin di desa kami, untuk menguatkan pendidikan.
“Nak Prasdjo! kau dapat surat undangan dari pak Ir. Soekarno untuk menghadiri dan menjadi salah satu anggota organisasi ternama pembentuk kemerdekaan!” Hal yang sangat didambakan Prasdjo baru saja diucapkan ayahnya.
“Hah apa! Ini sungguhan ayah!?” Ucap saya kegirangan. Saat itu jantung saya berdetak kencang. Ketika membaca surat tersebut, saya sudah seperti burung yang beterbangan ke sana ke mari, dan berkicauan. Hati saya berbunga-bunga, dan saya menerima sepucuk surat tersebut dengan rasa bahagia.
***
“Plak,” buku ditutup dengan pelan.
“Jadi begitulah cerita kakek buyut kalian. Sekarang kalian puas anak-anak,” terdengar suara ayah yang berbicara kepada anak-anaknya.
“Iya kami puas! Jadi begitu perjuangan kakek buyut. Terdengar menyenangkan, kami juga ingin seperti kakek buyut, ayah!” Ucap anak-anaknya kegirangan
“Suatu saat nanti ada waktunya.”
Buku harian lama itu disimpan kembali ke rak buku yang berlabelkan buku-buku sejarah keluarga di depan raknya.
Bionarasi Penulis
Muhammad Fadli Fahreza
Itu nama si penulis, baru kedua kalinya mengikuti lomba dari dinas. Memiliki satu karya carpon, berjudulkan Ngabolangna Kasjum, tapi tidak dipublikasikan. Berumur 14 tahun, lahir 28/7/2011. Bersekolah di SMPIT Al-Ukhuwah, kelas 8. Keunikan, nama selalu beruntung, tapi tidak dengan orangnya, dan menyukai nomor 2, dan selalu mendapatkan nomor 2. Prestasi sekolah, man of english, dan prestasi dinas, lomba carpon, juara harapan 2.
Bionarasi Penulis
Muhammad Fadli Fahreza
Itu nama si penulis, baru kedua kalinya mengikuti lomba dari dinas. Memiliki satu karya carpon, berjudulkan Ngabolangna Kasjum, tapi tidak dipublikasikan. Berumur 14 tahun, lahir 28/7/2011. Bersekolah di SMPIT Al-Ukhuwah, kelas 8. Keunikan, nama selalu beruntung, tapi tidak dengan orangnya, dan menyukai nomor 2, dan selalu mendapatkan nomor 2. Prestasi sekolah, man of english, dan prestasi dinas, lomba carpon, juara harapan 2.

