
Sang Halusinator
“Nggak ah, aku malu”.
“Coba dulu kamu udah hebat loh, nanti kalau menang bisa ngebanggain satu sekolah”.
“Pokoknya nggak mau!!!”.

“Nggak ah, aku malu”.
“Coba dulu kamu udah hebat loh, nanti kalau menang bisa ngebanggain satu sekolah”.
“Pokoknya nggak mau!!!”.

“Desa tersayang! Saya dataaang!” Saya berlari-lari kecil dengan sesekali menutup mata, sambil menikmati udara yang segar. Rasanya setiap hembusan angin masuk menyelusup ke seluruh rongga-rongga tubuh.
“Gubrak!!” Saya terjatuh karena tersandung sesuatu yang keras.

“Kontenku gagal lagi…!!!” Teriak Rafi.
Suaranya menggelegar sampai memantul ke dinding kelas yang catnya sudah mengelupas. Ia menendang botol plastik kosong di pojok kelas, hingga benda itu berputar seperti gasing tak bernyawa. HP-nya tergeletak di meja, layarnya masih menyala, menampilkan video yang semalam diunggah dengan penuh harap yaitu prank pura-pura kesurupan di kantin. Jumlah penontonnya menyedihkan hanya 37 views. Itu pun sudah termasuk dirinya sendiri yang menonton berulang-ulang, seakan menipu semesta bahwa ia punya khalayak. Naya, sahabatnya yang tak pernah kehabisan komentar ceplas-ceplos, langsung tertawa keras sampai nyaris tersedak permen karet.

“Tunggu musim dingin selesai ya, Bu. Cuacanya sedang tidak bagus, terkadang ada badai salju yang membuat penduduk tidak bisa keluar rumah. Aku juga harus menyelesaikan novelku yang ke sepuluh dulu, baru aku pulang dan merayakannya,” kataku memberi penjelasan kepada Ibu. Percakapanku dengan ibu tidak terlalu lama, cukup memberi kabar lalu aku menutup telepon sambil mencari tempat duduk.

Bel istirahat berbunyi waktu istirahat telah tiba , semua siswa siswi jajan tetapi di ruang kelas andre dan teman teman jajan sedangkan andra fokus membaca buku untuk memperdalam ilmu ilmu sastra, pendidikan emang si andra suka banget dan ingin mengembangkan membumikan sastra menguatkan pendidikan di sekolah nya.
Setelah istirahat bel masuk kelas telah tiba seluruh siswa siswi kembali ke kelas nya masing masing.
Pelajaran kedua pun tiba tetapi andre orang nya malas malasan tapi ketika ekskul futsal excited banget.

Aku memegang buku itu. Buku dengan luar yang sedikit usang. Ku buka lalu ku baca dengan pelan. “Hidupmu bagaikan lilin, menerangi namun melahap dirinya sendiri”. Hingga di selembar berikutnya. Muncul kata-kata yang tak pernah terbesit dalam hidupku. Kata-kata itu seperti tercipta untukku. Sekarang aku sadar, bahkan kata-kata yang dianggap remeh lebih menyuarakan diriku sendiri daripada orang-orang yang hanya menganggapku sebagai kertas basah.
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis

Kita mungkin begitu berbeda dalam segala
Tetapi aku dan kau bagaikan sas dan tra
Yang menyatu
Tak terbantahkan

Anak-anak datang dengan kaki telanjang
Meniti jalan di tanah gersang
Menyimak dongeng, meneguk pengetahuan
Bertahtakan pendidikan

Menyala tidak berarti selalu untuk terlihat terang, melainkan tetap hidup dalam gelap.

SMPIT Al-Ukhuwah meraih beberapa juara di ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat kabupaten.