Zahwa Uswatun Hasanah
“Dasar anak tidak berguna!” Plak! sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.
“Bisanya jadi beban keluarga! Malu-maluin tahu gak?!” Ayah membentakku suaranya nyaring sekali di telingaku.
“kenapa ayah terus saja menyalahkanku? Jelas-jelas itu bukan ulahku!” Aku terisak. Menahan sakit yang luar biasa. Plak!
“sudah cukup! besok kau langsung minta maaf kepada anak itu” Ayah berjalan dan masuk ke kamarnya. ‘apakah aku harus berubah agar tidak mendapatkan masalah? baiklah, akan kucoba’ Ucapku menyakinkan diri.
***
Kicauan burung di pagi hari membuatku terbangun. Menghirup udara pagi yang sejuk nan damai. Hari ini, Aku hanya bisa membeli nasi uduk, semoga itu cukup. Aku berjalan melewati pesawahan, menghirup dalam-dalam wangi rerumputan yang masih basah. Tak jauh dari tempatku, ada seorang ibu-ibu yang sangat kukenal. Dia berjualan nasi uduk, Aku sudah langganan beli di tempatnya. Oh ya! Namanya bu Dina.
“Selamat pagi buu” sapaku lalu duduk di kursi yang sudah disediakan
“Eh, neng beli nasi uduk lagi, mau pake apa aja?” Tanya bu Dina seraya tersenyum tipis.
“kaya biasanya bu” Aku ikut tersenyum bu Dina mengangguk
“ya sudah tunggu sebentar ya” lantas menyiapkan nasi uduk untukku.
Umurnya tidak terlalu tua tapi juga tidak terlalu muda. sekitar 35 tahun. Aku menunggu sembari melihat persawahan yang luas ah. ‘Di kota mana ada yang seperti ini’ batinku. Setelah selesai bu Dina memberikan sekantong plastik berisi dua nasi uduk ‘tunggu, dua?’
“Bu, ko ada dua sih nasi uduknya, kalau uangnya kurang gimana?” Tanyaku, aku tak ingin mempunyai hutang ke orang lain, tak seperti seseorang. Sudut bibirnya tertarik tipis, membuat senyuman yang membahagiakan.
“Satu buat kamu, satu lagi buat ayahmu” Aku terkesiap “T-terima kasih” Ucapku. Aku kembali berjalan melewati pesawahan. Tak sadar terus tersenyum riang, sampai ada yang memperhatikan. Aku menoleh, melihat seorang anak pemulung, aku tersenyum
“Kamu mau, dek?” Tanyaku kepada anak itu. Benar saja, anak tersebut langsung menghampiriku lalu tersenyum. Kami berdua pun makan nasi uduk bersama.
“Kakak tahu gak? Hidup itu seperti roda yang selalu berputar loh!”
Aku tertarik dengan topik pembicaraan.
“Oh, ya?” Tanyaku antusias menunggu jawaban dari anak tersebut.
“Iya, ada kalanya seseorang berada di atas, ada kalanya juga seseorang itu berada di bawah.” Ucapnya, Deg! ‘Oh.. Relate sekali’ batinku.
“Kakak juga jangan pernah bosan untuk menyebarkan kebaikan-kebaikan, karena kebaikan kaka suatu hari nanti pasti akan dibalas dengan hal yang tak terduga” Ucapnya sembari memasukan satu sendok terakhir.
“Oh iya, kakak tahu gak? Katanya di desa kita akan ada lomba loh!” Serunya.
“Memangnya ada lomba apa aja?” Tanyaku.
“Banyak sekali! lomba tentang sastra gitu” Aku berfikir sejenak, ‘bagaimana jika aku mengikuti salah satu loma tersebut? mungkin itu seru’.
“Katanya kaka bisa sekolah kalau mendapatkan juara dari salah satu lomba tersebut” ‘hm.. Semakin menarik, aku rasa aku akan mengikuti salah satu lombanya’ “ya sudah, besok kita bertemu lagi di sini. Ingat! kakak boleh liat ke atas untuk motivasi, tapi kakak juga harus melihat ke bawah untuk sadar diri” Ucapnya seraya berjalan meninggalkanku, lalu menoleh.
“Terimakasih untuk nasi uduknya!” Ucapnya seraya melambaikan tangan ke arahku, pertemuan yang singkat, namun bermakna.
***
Sorenya, aku mampir ke perpustakaan yang ada di balai desa untuk meminjam beberapa buku di sana, aku membuka pintu, memilih beberapa buku cerita untuk inspirasi lomba menulis cerpen yang akan diadakan di balai desa, pemenangnya akan dimasukkan ke salah satu sekolah dan akan dibiayai hingga ia lulus di sekolah tersebut. Tetapi.
“Untuk apa kau meminjam buku? lagipula itu tak akan membuatmu kaya raya!” Kesal ayah padaku. Aku membantahnya.
“Karena membaca buku membuatku berimajinasi tentang lomba cerpen yang akan diadakan di balai desa nanti Ayah!” Ayah mengusap wajahnya dengan kasar, mukanya merah padam.
“Bukanya cari uang kau malah asyik mem-”
“Aku juga mau sekolah Ayah! Aku mau jadi penulis yang karyanya dikenali banyak orang, yang membuat orang lain termotivasi akan tulisan yang aku buat, bukan cuma cari uang, tapi gak jelas tujuannya!” Ayah terdiam, mungkin terpaku dengan kata-kataku barusan? Entahlah.
***
Besoknya, aku langsung pergi untuk menemui anak kemarin yang katanya akan mengikuti lomba di balai desa juga.
“Halo ka!” Sapanya yang tiba-tiba muncul di belakangku.
“Eh, bikin kaget aja!” Ucapku seraya tersenyum tipis.
“Kaka jadi ikut lombanya kan? Kalau jadi sekarang daftarnya loh”
“Iyakah?” Tanyaku yang dijawab dengan anggukan sekilas.
“Iya, makanya daftar sekarang aja biar gak ngantri” ajaknya.
Kami berdua pun sampai di balai desa, semua persiapan sudah selesai, tinggal menunggu besok untuk memulai lombanya.
“Dua orang ka.” Ucap anak tersebut kepada salah satu panitia yang mengurus nama.
“Siapa aja, dik?” Tanya panitia tersebut “Kelly dan..” Anak itu menoleh ke arahku.
“Aline” ucapku, itu kali pertama kami berdua menyebutkan nama.
Malamnya, sebelum tidur aku membaca buku agar dapat inspirasi untuk lomba besok.
***
Aku sedang makan nasi uduk bersama kelly, ya itu namanya.
“Kaka udah siap kan?” Tanya kelly. Aku menoleh.
“siap.” walaupun masih ada rasa gugup dan takut dalam hatiku, namun aku harus mencoba agar bisa mendapatkan juara.
Sesampainya di balai desa, aku melihat banyak sekali peserta yang mengikuti lomba tersebut, walau aku tak kenal siapa mereka, aku rasa mereka juga sepertiku, yang ingin bersekolah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Lomba diadakan di salah satu sekolah di dekat balai desa.
“Peserta lomba menulis cerita pendek harap memasuki kelas yang ada di sana” ucap kakak panitia yang menunjuk ke salah satu kelas.
“Kurasa kita akan berpisah di sini, benar kan key?” Itu adalah nama panggilan yang aku buat untuknya.
“Ya.. Kurasa memang begitu. Baiklah, kita bertemu lagi nanti di sini selamat berjuang ka!” Ucapnya seraya pergi ke kelas menulis puisi, itu lomba yang dipilihnya. Karena dia merasa berbakat di bidang tersebut.
***
Matahari mulai menyingsing ke tengah, membuat beberapa orang mulai berteduh di bawah pohon, aku keluar kelas dengan senyuman yang tak pudar, ‘akhirnya selesai juga, tinggal menunggu hasilnya’. Aku mendekati kelly yang sedang duduk di bawah pohon.
“Bagaimana menulis puisinya, apakah lancar?” Tanyaku lalu ikut duduk di sebelahnya.
“Ya.. Lumayan. Kalau kakak sendiri bagaimana?” Tanya kelly.
“Hm.. Oke sih, gak ada kendala sama sekali malah” Ucapku.
Semua peserta lomba diberi waktu istirahat selama 30 menit, lalu setelah itu kembali ke tempat acara untuk mendengarkan siapa juaranya. Aku menghabiskan waktu istirahat hanya dengan berbincang dengan kelly, menceritakan bagaimana pengalaman lomba pertama kami.
“Semua peserta harap berkumpul di tempat acara karena pengumuman juara sebentar lagi akan diberitahukan” aku dan kelly langsung duduk di kursi yang sudah ada, menunggu siapakah juara dari lomba yang kami ikuti.
“Juara 3 lomba menulis cerpen dimenangkan oleh…” Ya, aku berharap juara tiga saja, namun ternyata.
“Ananda Keysha..”
“Juara 2 lomba menulis cerpen, dimenangkan oleh…” Aku menatap kelly, sudah ku tebak bagaimana rasanya, pasti gugup sekali bukan?
“Ananda Aura..!” Aku mendecih, mungkin bukan waktunya, cewek berkuncir kuda maju ke depan untuk mendapatkan hadiah.
“Juara 1 dimenangkan oleh..”
“Pasti bukan aku” candaku.
“Ananda Aline..” Aku terkejut, lantas dengan ragu berjalan ke depan. Lalu diberi piala serta sebuah kertas yang bertuliskan.
“selamat, anda mendapatkan beasiswa di sekolah ini”. Jantungku berdegup tak karuan, inilah awal dari kehidupanku.
***
“Hoamm” aku terbangun, mengucek kedua mataku. Lalu berjalan ke arah kamar mandi, kelly sempat terdiam sejenak melihat foto masa kecilku bersama ayah yang sudah tiada. Dan kembali berjalan, kini aku sedang duduk di bangku kuliah, hasil kerja kerasku beberapa tahun kebelakang. Aku memilih jurusan sastra karena cita-citaku ingin menjadi penulis yang karyanya digemari oleh banyak orang. Ayahku telah tiada 2 tahun yang lalu, persis saat aku lulus di bangku SMA. Aku pun turun ke lantai bawah, melihat ibuku dan adikku yang sudah menungguku untuk sarapan bersama. Ibuku bernama bu Dina. ya, kamu tidak salah dengar, ternyata dia adalah ibu kandungku. Dan adikku adalah Kelly, aku mengangkat dia menjadi adikku, selesai sarapan aku meminta kelly untuk naik ke atas.
“Kenapa kaka memanggilku?” Tanyanya di ambang pintu.
“Bantuin kakak bikin novel baru dong!” Bujukku kepadanya. Kelly menghela nafas.
“Baiklah.” Yes! Kini, aku sedang berpikir tentang novel ke-10 ku, yang akan aku terbitkan. Ya, begitulah kisahku. Tentang anak desa yang kini sudah menjadi penulis terkenal yang disukai banyak orang. Aku bisa menjadi salah satu anak yang bisa mewujudkan mimpinya sendiri. Hasil kerja kerasku selama ini. Aku, hanyalah anak desa, tetapi bisa membanggakan orang disekitarnya, semua anak di desa kagum padaku, mereka juga ingin sepertiku, yang pekerja keras demi mendapatkan hasil yang memuaskan.
Bionarasi Penulis:
Zahwa Uswatun Hasanah adalah seorang pelajar yang kini sedang duduk di bangku SMP. Yang kerap disapa zahwa oleh teman-temanya. Lahir pada tanggal 28 februari 2012. Di kota yang sering kali dijuluki kota nanas yaitu kota subang. Anak pertama dari tiga bersaudara. Hobinya yaitu 3m alias (menggambar, menulis, dan membaca). Paling suka kalo lagi berimajinasi. Cita-citanya ingin menjadi guru, melanjutkan pendidikan kedua orangtuanya. Mencoba hal baru adalah impiannya. Salah satu karyanya terdapat dalam buku gsmb yang berjudul “Allah tau kamu lelah”. “Jangan pernah takut untuk mencoba, takutlah menyesal karena tidak pernah mencoba”>.<

