u4-WhatsApp-Image-2026-02-10-at-12.36.13
Alinea Terakhir

Novita Nurul Fauziah, S.Pd.

“Jangan lupa tutup jendelanya, angin malam suka nakal!” Pesanmu menutup pertemuan dengan kelakar. Meski empat jam penuh kau buat percakapan kita terdengar riang dan penuh ambisi, tapi aku tak mudah dibohongi. Aku menangkap asap kelabu menggelayut di kedua bola matamu, sama persis seperti hari pertama kita bertemu.

Kau melangkah menembus gelap. Kupandangi punggungmu dengan getir, dasar manusia sok kuat!

Setelah kau benar-benar hilang dari pandangan, aku melangkah masuk ke dalam. Mengunci pintu, lalu mematuhi pesanmu, menutup jendela rapat-rapat. 

Malam selanjutnya, seperti biasa kita duduk berdampingan di ruangan penuh buku, ruang tengah rumahku. Espresso sudah hampir dingin, tapi obrolan kita masih hangat. Kau mengutip bait Rendra dengan menggebu, aku menimpali dengan kalimat Sitor yang lirih. Seolah-olah seluruh ruangan ini menjelma panggung sastra yang kita impikan.

“Kalau sanggar itu jadi,” katamu dengan mata berbinar, “aku ingin ada rak kayu besar di tengah, bantal warna-warni, karpet permadani empuk… Lalu anak-anak memilih buku sesuka hati, bersantai di lantai, membaca sampai mengantuk.”

Aku mengangguk cepat, ikut larut dalam rencana. “Dan di pojoknya ada papan tulis hitam, kita bisa coret-coret kata, bikin diskusi puisi. Setiap Sabtu malam, kita bacakan karya baru.”

Kau tertawa riang. Seakan impian begitu mudah kita genggam hanya dengan kata-kata. Namun, dalam jernih tawamu, aku selalu menangkap kabut samar. Asap kelabu yang tak bisa kau sembunyikan di bola matamu. Dan untuk kesekian kalinya, aku tak pernah bisa kau bohongi. 

“Aku tahu kamu capek,” kuselami matamu jauh hingga ke dalam.

Kau langsung mengalihkan pandangan, meneguk kopi yang sudah dingin. “Aku? Ahh, aku kan kuat. Jangan khawatir.” Ujarmu sambil tertawa kecil, mencoba meyakinkanku.

Aku terus menatapmu, lebih lama dari seharusnya. Dasar manusia sok kuat, lagi-lagi dalam batinku. 

Seperti malam-malam sebelumnya, kau akhirnya berdiri setelah melihatku menguap berulang kali. Mengambil jaket, melangkah menuju pintu. “Jangan lupa, tutup jendelanya. Jangan sok kuat, kamu sering masuk angin, kan?”

“Hahaha…” Aku berusaha menepis kekhawatiranmu, “kamu kan tahu aku suka angin malam.”

“Tetap saja,” jawabmu singkat. Lalu punggungmu hilang ditelan gelap.

Aku menutup jendela, meski enggan. Dan selalu, seperti ada hampa yang menelan ruangan ini bulat-bulat setiap kali jendela ditutup. Hening yang begitu pekat. Hening yang membuatku sadar: mungkin aku terlalu terbiasa membiarkanmu pergi, tak ada kemampuan untuk membuatmu tetap tinggal. 

Siang harinya rumahku berubah riuh. Anak-anak itu datang, membawa tawa, membawa rasa ingin tahu. Buku-buku yang sebelumnya hanya jadi peneman sepiku kini berpindah tangan, dibolak-balik oleh jari-jari kecil yang penasaran.

Aku memasang sebuah papan kayu di dinding teras depan: Jendela Kata. Nama yang kita pilih bersama untuk tempat impian ini. Aku tahu, kau pasti tersenyum melihatnya.

“Bagus, tapi jangan hanya membaca. Ajak mereka menulis, biarkan kata-kata lahir dari nafas mereka sendiri.” Suaramu terdengar jelas, seakan kau sedang berdiri di sampingku, memberi arahan seperti biasa.

Aku menjawab dengan antusias seakan kau benar-benar ada, “Laksanakan, Kapten! Mereka harus tahu bagaimana kata-kata bisa menyembuhkan.”

Hari-hari berikutnya aku makin sibuk. Mengajari anak-anak menulis puisi sederhana, mendengar cerita mereka yang polos tapi jujur. Sangat menggemaskan. 

Setiap kali lelah, aku selalu menunggu malam. Menunggu saat kita kembali duduk bersama membahas berbagai hal. Kau biasanya mengomentari puisi anak-anak, memberi kritik, menambahkan ide, atau bahkan sekedar mengulang cerita-cerita lucu yang terjadi hari itu. Dan kau tahu? Semua yang kau ucapkan selalu membuatku merasa yakin bahwa aku didukung, dan setiap bersamamu pula aku merasa…penuh! 

***

Sore itu hujan deras, tetapi anak-anak tetap datang dengan baju basah kuyup. Untung saja mereka menyimpan baju ganti di sini. Kami duduk melingkar, kali ini jadwal menulis dan membaca puisi sederhana. Seorang anak lelaki kuminta membacakan puisinya. Ia membaca dengan malu-malu,

“Kalau ayah pulang, aku ingin dia dengar ceritaku.

Kalau ayah tak pulang, aku akan bercerita pada angin.

Biar angin membawanya sampai jauh, ke tempat ayah sembunyi.”

Aku terdiam. Suasana ruangan riuh oleh tawa dan tepuk tangan anak lain, tapi bait itu menusukku terlalu dalam. Kata-katanya seperti memantul dari ruang kosong di dalam dadaku. Getir yang sama seperti setiap kali aku mengingat kelabu di bola matamu.

Kau duduk di pojok, mendengarkan sambil tersenyum, seolah mengapresiasi keberanian anak itu. “Lihat,” katamu pelan, “bahkan anak kecil tahu bagaimana berbicara tentang kehilangan.”

Aku menoleh cepat. Kau masih ada di sana. Wajahmu teduh, matamu lembut. Tapi, mengapa bait itu terasa seperti pesan untukku? Aku mencoba tertawa kecil, menutupi getir yang mulai merambat. “Kamu benar. Alinea bisa jadi jembatan pesan, bahkan ketika orang yang kita tuju telah pergi jauh.” 

Kau tidak menanggapi. Hanya menatapku lama, lalu beralih menatap jendela yang berkabut oleh hujan. Aku menunduk, pura-pura sibuk membereskan kertas anak-anak. Tapi di dalam dada, sesuatu bergetar. Seperti ada ruang yang pelan-pelan retak, dan aku menolak melihat serpihannya, terlalu menyakitkan.

Malam itu sanggar kembali sepi. Anak-anak sudah pulang meninggalkan lantai yang masih basah bekas jejak kaki mereka. Aku duduk sendirian, menyalakan lampu redup di pojok, lalu merapikan rak buku yang kian padat.

Tetiba saja mataku menemukan sebuah buku catatan lusuh, terjepit di antara kumpulan puisi lama. Kulitnya sudah mengelupas, halaman-halamannya menguning. Aku tahu betul tulisan tangan itu; tegak, penuh keyakinan, milikmu.

Aku membuka pelan. Ada coretan-coretan tentang mimpi kita; tentang sanggar, tentang jadwal baca puisi yang tak pernah jadi. Ada pula sketsa sederhana yang kau gambarkan persis seperti celotehmu kala itu; rak kayu, lantai terbuka, bantal warna-warni dan…jendela besar yang kau bilang harus bebas dilompati angin.

Jantungku berdegup. Kau masih duduk di kursi dekat jendela, menatapku dengan senyum samar.

“Lanjutkan,” bisikmu. “Semua ini harus tetap hidup, meski tanpaku.”

Aku terdiam. Buku catatan di tanganku bergetar, seakan menolak keberadaannya sendiri. Ucapanmu terlalu tajam, menikam ulu hatiku. “Kenapa kamu bilang begitu?” suaraku terdengar parau.

Kau tak menjawab, hanya menatapku lama. Sebelum wajahmu memudar di antara bayangan lampu, aku menutup buku itu cepat-cepat, menekan dadaku yang sesak. Air mata hampir pecah, tapi aku menahannya. Aku selalu tak ingin terlihat lemah, apalagi di depanmu.

Di luar, hujan berhenti. Angin malam menyelinap lewat celah jendela yang lupa kututup. Dan untuk pertama kalinya aku bertanya pada diriku sendiri, apakah semua percakapan kita hanyalah gema dari catatan lama yang tersisa dalam batinku? Tidak! Bagiku kau nyata.

Malam itu angin kencang sekali. Tirai melambai, jendela berderit-derit, seakan seluruh benda di ruangan ini ikut gelisah. Aku meraih cangkir kopi dengan tergesa, menyiapkan dua espresso seperti biasa. 

Kau datang lagi, duduk di kursi seberang. Senyummu lembut, suaramu hangat, seakan tak pernah ada yang berubah. Kau bicara panjang soal sanggar: anak-anak yang mulai berani membaca puisi, orang-orang dewasa yang diam-diam ikut menulis. 

Sampai akhirnya aku memberanikan diri membuka buku catatan lusuh itu lagi, tepat di hadapanmu. Di halaman terakhir, kutatap lekat tulisan tangan yang kukenal betul:

“Jika suatu hari nanti aku tak bisa menemanimu lagi, teruslah hidup dengan kata-kata. Alinea adalah denyut nadi kita.”

Aku beralih menatapmu, meminta jawaban atas semuanya. “Kamu sudah menulisnya sejak dulu, kan? Bahkan sebelum semua ini…” suaraku tercekat. Kau hanya tersenyum. Senyum yang terlalu tenang untuk seseorang yang katanya akan selalu kembali. Kali ini aku kalah telak. Kau berhasil membohongiku.

“Kenapa kamu masih di sini?? Kenapa belum juga pergi?!” Teriakku dengan suara yang justru nyaris hilang. Kau tidak menjawab. Hanya memandang jendela yang terbuka lebar, angin malam menelusup masuk menyebar dingin yang tak biasa.

Saat aku berkedip, kursi itu telah kosong. Cangkir di hadapannya tetap penuh, tak berkurang sedikit pun.

Hatiku sungguh berantakan, luka itu akhirnya pecah memenuhi seluruh ruangan. Aku menatap jendela, membiarkan air mata jatuh dengan sangat deras. Aku merasa…kosong. Kau hanya bayang-bayang. 

Di sela sesak yang menghimpit, aku mendengar gema samar suaramu,

“Aku tidak pernah benar-benar pergi. Aku ada pada setiap bait yang kau baca, di setiap jendela yang kau biarkan terbuka.”

Aku tertatih berjalan menuju jendela, menutupnya dengan tangan gemetar. Malam menguarkan aroma hening yang sangat pekat. Aku tergugu menyadari apa yang terjadi. Mimpi ini milik kita. Dan kau, akan selalu hidup di dalam alinea-ku, meski sekedar bayang-bayang.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait